Pelajar Dibekali Pelatihan Jurnalistik, Pihak Sekolah Ingatkan Tantangan Zaman
Foto bareng pasca pelatihan jurnalistik di SMK Muhammadiyah Pamotan, Jum’at (04/10).
Foto bareng pasca pelatihan jurnalistik di SMK Muhammadiyah Pamotan, Jum’at (04/10).

Pamotan – Seiring dengan dinamika perkembangan dunia pendidikan, kalangan pelajar juga dituntut bisa menulis berita. Bekal ketrampilan semacam itu, nantinya diharapkan mampu menumbuhkan budaya menulis dan membaca, yang belakangan semakin tergerus.

Jum’at pagi (04/10) misalnya. 30 an murid SMK Muhammadiyah Pamotan, mengikuti pelatihan jurnalistik, dengan dibimbing jurnalis radio dan televisi. Mereka belajar teori maupun praktek menulis berita, serta berlatih mengoperasikan kamera.

Seorang siswi SMK Muhammadiyah Pamotan, Luluk Andriawati mengatakan karena semua peserta masih awam dunia jurnalistik, maka selama pelatihan perdana tersebut, lebih banyak diberikan materi tentang dasar-dasar membuat berita. Menurut Luluk, ada sejumlah kesulitan yang dihadapi, terutama dalam merangkai kalimat.

“Kalau ditanya yang paling membekas ya soal rumus buat berita harus mencakup 5 W 1 H. Sedangkan komposisinya dibikin dengan konsep piramida terbalik, “ kata Luluk.

Sementara itu Bidang Kesiswaan SMK Muhamamdiyah Pamotan, Ana Aminatul Aliyah menjelaskan pihaknya melibatkan siswa kelas X, guna mengikuti pelatihan jurnalistik, karena masih memiliki waktu agak longgar untuk menggarap produk jurnalistik sekolah.

Ana menganggap sekarang ini zamannya media sosial, sehingga sekolah mesti berlomba-lomba menghidupkan media sosial, sebagai sarana mempromosikan kegiatan di sekolah.

“Kemarin sempat vakum, sekarang kita giatkan lagi. Di kelas kan siswa walau diajari mata pelajaran Bahasa Indonesia, tapi perlu punya dasar membuat berita. Apalagi kita punya blog, instagram, facebook yang harus diisi oleh siswa. Kelihatannya nulis mudah, tapi kalau dikasih materi ya susah memang, “ terangnya.

Sebagai penutup pelatihan jurnalistik, siswa ditunjukkan sejumlah video hasil liputan, agar mereka lebih paham antara teori dengan visual yang sesungguhnya.

“Berapa detik ketika kita ambil gambar sekali shoot untuk obyek yang tidak bergerak. Bagaimana sequen dari jauh, dekat sampai close up obyek. Termasuk angle yang pas ketika wawancara narasumber. Yang penting siswa tahu dasarnya dulu. Kalau mereka rajin berlatih, bisa kok belajar dari pengalaman, “ ungkap Musa, sebagai pemateri. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *