Mega Proyek Senilai Rp 6 Trilyun Lebih, Lima Calon Lokasi Ini Yang Disurvei
Direktur BUMD PT. Rembang Migas Energi, Zaenul Arifin (kaos biru) bersama perwakilan investor, saat menggelar survei calon lokasi di pinggir pantai Kecamatan Sluke.
Direktur BUMD PT. Rembang Migas Energi, Zaenul Arifin (kaos biru) bersama perwakilan investor, saat menggelar survei calon lokasi di pinggir pantai Kecamatan Sluke.

Rembang – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT. Rembang Migas Energi mendampingi investor dari Qatar, untuk survei di 5 titik yang nantinya dianggap paling tepat menjadi lokasi pembangunan kilang gas terapung, pembangkit listrik lepas pantai dan tempat penyimpanan ikan (cold storage).

Direktur BUMD PT. Rembang Migas Energi, Zaenul Arifin, Selasa siang (10 September 2019) membeberkan kelima lokasi yang disurvei meliputi Sluke, Tanjung Bendho Sluke, Binangun Kecamatan Lasem, utara Pantai Nyamplung Desa Tritunggal Rembang dan sekitar Pulau Marongan Kaliori.

Pihaknya intensif mengawal rencana tersebut, karena nilai investasinya sangat besar, mencapai 450 Juta US Dolar atau Rp 6 Trilyun lebih. Jika semua tahapan lancar, perkiraan awal tahun 2020 pembangunan sudah dimulai.

“Tahap pertama kan pembebasan lahan menuju arah pantai, target kita di lapangan awal tahun 2020 sudah bisa dieksekusi. Investasinya nggak main-main, 450 Juta US Dollar. Investor Qatar ini bareng dengan investor lokal Indonesia, PT. Mega Media Akses Indonesia,“ tuturnya.

Dari 5 titik yang disurvei, Zaenul Arifin belum mau membocorkan posisi paling layak untuk pembangunan kilang gas terapung, pembangkit listrik lepas pantai dan tempat penyimpanan ikan (cold storage). Namun pihak investor mensyaratkan kedalaman laut harus memadai, karena nantinya akan menjadi tempat bersandar kapal-kapal besar.

Jika nantinya perairan kecamatan Sluke jadi dipilih, maka perlu ada pembersihan ranjau terlebih dahulu, bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut. Mengingat, kawasan tersebut dikenal banyak ranjau sisa peninggalan Perang Dunia ke II. Kalau tidak diledakkan, akan sangat berbahaya bagi operasional kedepan.

“Pertimbangan teknis, mitra kami akan melihat kedalaman laut layak atau nggak. Tapi kalau ditanya posisi dimana, nanti lah kita sampaikan. Jangan sekarang, “ imbuhnya.

Menurutnya, mega proyek ini akan menjadi percontohan sektor pengolahan hasil perikanan di Indonesia. Jika pembangunan selesai, tempat usaha tersebut bisa digunakan pula untuk wisata laut sekaligus wisata kuliner.

“Jadi mitra kita ini punya tempat penyimpanan ikan tangkapan nelayan di Morotai, Makassar dan Kupang NTT. Dari tiga daerah itu, nantinya ikan dibawa ke Rembang. Rencananya seperti itu, karena cold storage mampu menampung 30-40 ribu ton ikan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *