Siap Serahkan Semua Pusakanya, Dengan Dua Syarat
Isat Madiyanto menata pusaka-pusaka di rumahnya Desa Kabongan Kidul, Rembang.
Isat Madiyanto menata pusaka-pusaka di rumahnya Desa Kabongan Kidul, Rembang.

Rembang – Bumi Kabupaten Rembang menyimpan banyak pusaka yang terpendam tidak kasat mata. Isat Madiyanto, seorang tokoh warga Desa Kabongan Kidul, Rembang mengklaim selama bertahun-tahun dirinya menjelajah dari satu lokasi ke lokasi lain, untuk mengangkat pusaka-pusaka tersebut. Di mana saja dan bagaimana kisahnya ?

Ditemui di rumahnya Desa Kabongan Kidul, Isat Madiyanto yang akrab disapa Mbah Lhu, menunjukkan benda-benda gaib yang berhasil ditarik melalui sebuah ritual khusus. Ia mengingatkan bukan untuk kemusyrikan, tetapi semata-mata upayanya ingin mengumpulkan pusaka yang tersimpan di bumi Kabupaten Rembang. Isat menegaskan selama ini tidak pernah merekayasa. Baginya soal orang lain mau percaya atau tidak, terserah pada anggapan masing-masing.

Temuan yang menurutnya masih menyimpan misteri adalah saat mengangkat pusaka di Pulau Gede, sebuah pulau tidak berpenghuni, sebelah utara Desa Tasikharjo, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, lima tahun silam.

Selama 4 jam berada di Pulau Gede, Isat akhirnya berhasil menemukan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat 2 buah selendang sutera, payung, sisir, konde dan dua buah kapak terbuat dari batu.

“Sebuah ritual yang bertujuan agar barang bisa menampakkan diri dan dapat saya ambil. Jadi keluarnya seperti ada percikan kembang api, gesekan antara alam kita dengan alam tidak kasat mata. Benda tertimbun pada kedalaman berapa meter ya nggak tahu, nyatanya barang nggak rusak. Wujudnya seperti itu, bisa dilihat sendiri, “ kata Isat.

Selain pusaka Pulau Gede, Isat juga mendapatkan cukup banyak keris dari berbagai lokasi. Salah satunya di kawasan Pantai Jatisari, Kecamatan Sluke, memperoleh sebuah keris yang lekukannya termasuk sangat istimewa.

Menurut Isat, jika suatu saat nanti Kabupaten Rembang memiliki museum sejarah, ia mempersilahkan barang-barang pusaka di rumahnya dipindahkan ke museum. Isat ikhlas, asalkan dengan dua syarat. Barang harus benar-benar dijaga dan jangan sampai dijual kepada pihak lain. Baginya, pusaka-pusaka dari bumi Kabupaten Rembang, harus tetap bertahan di Rembang, sekaligus untuk melestarikan tradisi budaya Jawa.

“Daripada dijual sama orang lain, lebih baik saya kembalikan lagi ke tempatnya dulu. Kalau pindah tangan, saya nggak rela. Tapi beda jika di museum, anak-anak muda generasi sekarang biar bisa melihat, pusaka ini dari mana, dan sejarahnya seperti apa, “ ungkapnya.

Isat menambahkan sebenarnya masih banyak, benda-benda pusaka yang tersimpan di Kabupaten Rembang, dengan usia ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Untuk menemukan itu, kuncinya adalah kemauan, usaha dan tentu butuh kesabaran. (Musyafa Musa).

News Reporter

2 thoughts on “Siap Serahkan Semua Pusakanya, Dengan Dua Syarat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *