Kampung Ciu Terus Bergerak, Yukk Kita Intip Ada Apa Saja Di Dalamnya
Seorang konsultan dari perguruan tinggi memberikan bekal branding kampung di kawasan Kampung Ciu Dusun Cikalan, Desa Pamotan.
Seorang konsultan dari perguruan tinggi memberikan bekal branding kampung di kawasan Kampung Ciu Dusun Cikalan, Desa Pamotan.

Pamotan – Pernahkah anda mengenal Kampung Ciu di Kabupaten Rembang? Nah..kampung ini tengah merintis sebuah wisata edukasi, di dalamnya menawarkan sesuatu yang berbeda.

Kata Ciu ternyata bukanlah minuman keras olahan sejenis arak, tetapi kata singkatan dari Cikalan Unik. Cikalan merupakan sebuah dusun di Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan.

Ketua Komunitas Pemuda Pamotan Millenial, Setiawan Ananto mengungkapkan proses membuat wisata edukasi hingga saat ini masih terus berjalan, berkat kekompakan masyarakat bersama kelompok pemuda setempat. Sudah ada kolam renang, kamar mandi, area untuk bermain, kemudian miniatur kapal Nabi Nuh AS dan nantinya dilengkapi pula panggung untuk pentas seni budaya. Selain itu, juga terdapat beberapa lokasi peternakan, yang bisa didatangi pengunjung untuk menimba ilmu.

“Jadi warga nggak hanya menyumbang dana, tapi juga tenaga mereka, demi mewujudkan kawasan wisata edukasi. Semua secara swadaya. Bagi saya sudah lumayan lengkap, untuk ukuran sebuah dusun, “ terangnya.

Setiawan menambahkan kata Cikalan identik dengan degan atau kelapa. Kebetulan di Dusun Cikalan masih banyak pohon kelapa yang layak diberdayakan. Tidak sebatas untuk minuman saja, tetapi bathok kelapa dapat diolah untuk bahan produk kerajinan. Menurutnya, perlu ada sentuhan pembeda, supaya Kampung Cikalan Unik (Ciu) kedepan lebih dikenal masyarakat.

“Kita gali, apa sich yang beda dari kampung ini. Salah satunya ya itu, Cikalan atau potongan kelapa. Kenapa nggak kemudian dikembangkan, untuk mengangkat hal-hal beda di sekitar kita yang dapat menopang konsep wisata edukasi, “ imbuhnya.

Guna memperkuat branding Kampung Ciu, baru-baru ini kalangan pemuda Dusun Cikalan mengundang konsultan branding dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Mereka memberikan pembekalan kepada warga setempat, bagaimana cara mengemas branding dusun supaya lebih menggigit. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *