Kisah Menarik Dibalik Buah Asem Sridadi, Ternyata Pabrik-Pabrik Besar Menanti
Sejumlah warga Desa Sridadi, Rembang mengais buah asem yang tercecer di pinggir jalan, Minggu (16/06).
Sejumlah warga Desa Sridadi, Rembang mengais buah asem yang tercecer di pinggir jalan, Minggu (16/06).

Rembang – Lebatnya pohon asem di sebelah utara Desa Sridadi, Rembang ternyata tidak hanya dimanfaatkan untuk destinasi wisata. Tapi di balik itu juga menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah warganya.

Puluhan pohon asem tersebut tiap tahun rutin dilelang oleh pemerintah desa. Namun warga masih diperbolehkan mengambil buah asem yang terjatuh.

Seorang warga Desa Sridadi, Kiswati menuturkan ia bersama sejumlah warga memunguti buah asem yang berceceran di jalan maupun lahan persawahan. Kepentingan warga bervariasi. Buah asem tak sekedar dipakai untuk keperluan sendiri, tapi ada pula yang dijual.

“Kalau asem dipakai sendiri, biasanya untuk memasak. Biar sayuran kecut dan seger gitu. Tapi kita ibaratnya mengais buah yang jatuh. Kalau diambil pakai galah ya nggak boleh, soalnya sudah ditebas pihak lain, “ tuturnya, Minggu pagi (16 Juni 2019).

Sementara itu warga Desa Sridadi lainnya, Ngarsi mengaku mengumpulkan buah asem, untuk dijual kembali. Sebelum Lebaran, harga buah asem yang sudah dikupas menembus Rp 70 ribu, tetapi sekarang menurun antara Rp 55 – 60 ribu per kilo gram. Dalam sehari, ia mampu mendapatkan 3 – 4 kilo gram.

“Saya jualnya di Pasar Rembang, ada pengepul dari Lasem. Lumayan bisa bantu-bantu untuk ekonomi keluarga. Buah asem ini ada, sifatnya musiman, paling 3 bulanan selesai, “ ungkap Ngarsi.

Ngarsi menambahkan buah asem banyak dibutuhkan oleh sejumlah pabrik. Maklum, karena buah jenis ini ternyata memiliki banyak manfaat. Pabrik kecap, pabrik jamu hingga pabrik kosmetik, sama-sama menantikan pasokan buah asem dari para pengepul. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *