Berulang Kali Pindah, BHR Akhirnya Temukan Lokasi Yang Cocok Untuk Pusat Observasi Bulan
Kegiatan melihat bulan muda (hilal) di kawasan Watu Layar Lasem, baru-baru ini.
Kegiatan melihat bulan muda (hilal) di kawasan Watu Layar Lasem, baru-baru ini.

Lasem – Kementerian Agama Kabupaten Rembang terus berupaya mencari lokasi yang paling ideal, untuk melakukan observasi bulan. Pantauan terhadap bulan merupakan bagian penting, menunjang kehidupan ibadah umat Islam. Kali ini Jelajah Islam akan mengangkat masalah tersebut.

Bertahun-tahun Badan Hisab Dan Rukyat (BHR) yang bernaung di bawah Kementerian Agama, berpindah-pindah menelusuri tempat yang cocok, untuk melihat hilal atau Rukhyatul Hilal.

Terlihatnya hilal, selain sebagai tanda menentukan awal bulan suci Ramadan, juga berfungsi untuk menunjukkan datangnya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, maupun awal bulan Dzulhijjah.

Sekretaris BHR Kabupaten Rembang, Ali Muhyidin mengisahkan sejak tahun 2008 silam, pihaknya tidak pernah bertahan pada satu titik, guna melakukan observasi bulan. Mulai dari perbukitan Desa Rakitan Kecamatan Sluke, bukit Desa Pomahan Kecamatan Sulang, kemudian pinggir Pantai Binangun Kecamatan Lasem, Pantai Karangjahe Desa Punjulharjo dan tahun 2019 giliran pindah ke Bukit Watu Layar di atas jalur Pantura Desa Binangun, Lasem.

Dari sekian banyak lokasi, ia berpendapat Bukit Watu Layar cukup bagus untuk melakukan pengamatan. Bahkan menurutnya potensial bisa menjadi Pusat Observasi Bulan di Kabupaten Rembang, pada masa-masa mendatang.

“Setelah kita muter-muter sejak tahun 2008, akhirnya tertuju ke Watu Layar. Kawasan ini milik Perhutani, merupakan mitra kita dalam rangka mengembangkan pusat observasi bulan pada masa mendatang, “ ujar Ali.

Pegawai Kementerian Agama Kabupaten Rembang ini menimpali Bukit Watu Layar berada pada ketinggian 39 di atas permukaan laut, aksesnya juga dekat dengan jalur Pantura Semarang – Surabaya. Sejumlah kiai sepuh pernah menyarankan untuk melakukan observasi bulan dari bukit Pasujudan Sunan Bonang, yang kebetulan posisinya sejajar, hanya berjarak 100 Meter sebelah selatan dari Bukit Watu Layar. Namun ketika Pasujudan Sunan Bonang disurvei, ternyata banyak pohon sangat lebat yang menutupi pantauan.

“Para kiai sepuh pernah dawuh untuk rukyat di Pasujudan Sunan Bonang, karena memang sejarah dulu itu banyak berhasil melihat hilal dari Pasujudan Sunan Bonang. Saat kita cek pohon jatinya tinggi-tinggi di situ, kalau kita tebang resiko, “ imbuhnya.

Menurut Ali Muhyidin di Badan Hisab Dan Rukyat (BHR) Kabupaten Rembang sudah mempunyai sejumlah peralatan, untuk kegiatan observasi. Mulai dari teropong bulan, teodolit atau teropong pengukur sudut, kemudian GPS maupun piranti tradisional ala santri, dengan cara membuat seperti gawang untuk memantau saat matahari tenggelam.

Baginya, kedepan tetap perlu ada pengembangan peralatan, agar pantauan bulan ini benar-benar efektif dan hasilnya akurat. Apalagi muaranya demi kepentingan umat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *