Hubungan Syech Abdurrohman Dengan Kerajaan Demak, Begini Riwayatnya
Makam dan silsilah Syech Abdurrohman di Desa Waru, Rembang.
Makam dan silsilah Syech Abdurrohman di Desa Waru, Rembang.

Rembang – Di Desa Waru, Rembang terdapat seorang tokoh yang diyakini sebagai penyebar agama Islam, sekaligus cikal bakal berdirinya Desa Waru. Ia masyhur dengan sebutan nama Syech Abdurrohman. Bagaimana silsilah dan sepak terjang beliau, ikuti kami dalam Jelajah Islam.

Makam Syech Abdurrohman berada di Desa Waru. Tidak diketahui pasti, kapan Syech Abdurrohman pertama kali datang ke desa tersebut. Namun makamnya kala itu dapat ditemukan, berkat jasa Kiai Abdullah Chafidz, ayahanda Kiai Wahab, pengasuh pondok pesantren Al Irsyad, Kauman belakang Masjid Agung Rembang.

Untuk mengungkap silsilah Syech Abdurrohman, saya mendatangi rumah Lasmin, seorang sesepuh di Desa Waru. Ia kebetulan mempunyai dokumen, berisi istikharoh KH. Nur Hamim ‘Adlan dari pondok pesantren Nahrul ‘Ulum Purbosuman, Ponorogo Jawa Timur.

Dalam silsilah tersebut diriwayatkan Syech Abdurrohman merupakan keturunan Kiai Lembu Suro atau Kidang Kencono, juru gladi perang pada masa Raden Patah yang memimpin Kerajaan Demak. Kidang Kencono mempunyai putera Sunan Suro Hamid Yahyo, pujangga terakhir Kesultanan Demak Bintoro, yang menikah dengan Dewi Werdaningrum, seorang puteri Pangeran Rembang. Dari hasil pernikahan tersebut, lahirlah Syech Abdurrohman.

Semasa hidupnya, Mbah Abdurrohman mempunyai dua isteri, masing-masing Dewi Kuncoro, anak biksu agama Budha yang telah masuk agama Islam dan Siti Sholilah, merupakan chafidzoh Al-Qur’an.

Lasmin mengisahkan menurut cerita turun temurun yang berkembang di tengah masyarakat Desa Waru, pada masa itu Syech Abdurrohman giat menyebarkan agama Islam. Untuk tempat ibadah, ia mendirikan sebuah Masjid. Warga tidak mengetahui bagaimana proses pembangunan Masjid. Begitu berdiri, mereka pun kaget. Setelah itu ramai di woro-woro (diumumkan-Red). Kata woro-woro tersebut, menjadi asal-usul Desa Waru.

Petilasan Masjid awalnya masih berdiri. Tapi seiring dengan bergulirnya waktu, Masjid terkubur di dalam tanah. Konon ketika umat ingin merenovasi, bangunan tidak mempan ketika akan dipaku.

“Mbah Durrohman miwiti syiar agama Islam teng mriki. Nggeh niku salah satune wonten Mesjid. Bentuk asline mpun boten wonten, lha bahane badhe diagem tambal sulam, dipaku mawon boten tedhas, akhire dikubur. Sakniki gantos mesjid ingkang sakniki, bangunan anyar mas, “ kisahnya.

Pria yang lahir pada tahun 1949 ini masih sempat mendapati masa-masa suram perkembangan agama Islam di Desa Waru. Ketika sholat jum’at saja, jumlah jemaahnya sangat sedikit. Bahkan tidak sesuai dengan syariat Islam. Tapi berkat upaya sejumlah ulama yang mewarisi semangat Syeh Abdurrohman, mereka tidak kenal menyerah.

“Wekdal niku ingkang sholat Jumat paling tiyang 13, kan dereng netepi syarat. Kulo tangklet ulama mriki Mbah Sukeri, pripun diteruske nopo boten. Sanjange diteruske mawon, mangke malah gak ono Jum’atan, “ ujarnya.

Ruslan menambahkan puncaknya ketika Kiai Abdullah Chafidz menyarankan untuk menggelar haul Syech Abdurrohman. Ia tidak hafal mulai tahun berapa kala itu, lambat laun agama Islam semakin berkembang di Desa Waru dan sekitarnya. Haul berlangsung pada hari pertama bulan Syuro, diisi dengan pengajian dan khataman Al-Qur’an.

“Jemaahe sakniki katah, wiwit wonten haul Mbah Durrohman, dangu-dangu agami Islam teng Waru sangsoyo ngremboko ngantos sakniki. Alhamdulilah, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *