Kisah Adipati Lasem, Sosok Penting Yang Membuat Wirabadjra (Mbah Brawud) Masuk Islam
Makam Mbah Brawud atau Adipati Wirabadjra di Desa Sriombo, Kecamatan Lasem.
Makam Mbah Brawud atau Adipati Wirabadjra di Desa Sriombo, Kecamatan Lasem.

Lasem – Kerajaan Majapahit memiliki andil terhadap masuknya agama Islam ke wilayah Lasem. Berawal dari kepemimpinan Bhre Lasem yang kala itu masih kental dengan peradaban Hindu-Budha.

Bhre Lasem yang memiliki nama asli Dewi Indu mempunyai cucu, bernama Wirabadjra atau anak dari pasangan Pangeran Badranala dan Putri Campa. Wirabadjra inilah yang kemudian menjadi Adipati Lasem. Ia semula beragama Hindu, tapi akhirnya memeluk agama Islam dan turut membesarkan Islam. Siapa Wirabadjra ? Jelajah Islam akan mengupasnya.

Wirabadjra, warga Lasem dan sekitarnya akrab menyebut dengan sebutan Mbah Brawud merupakan raja Lasem ke-5 dengan pusat pemerintahan di Desa Bonang-Binangun, perkiraan tahun 1469 Masehi. Di Desa Bonang pada masa itu terkenal memiliki Pelabuhan Regol yang sangat ramai. Bahkan pedagang-pedagang dari Persia maupun India sudah biasa singgah di tempat tersebut.

Termasuk kedatangan Sunan Ampel ke Desa Bonang, beberapa kali bertemu Adipati Wirabadjra. Dibalik perjumpaan tersebut, Wirabadjra mulai tertarik dengan Islam. Hingga akhirnya Wirabadjra memutuskan untuk memeluk agama Islam. Diriwayatkan pengaruh Sunan Ampel sangat besar mempengaruhi Wirabadjra masuk Islam. Berubahlah Kadipaten Lasem menjadi kerajaan Islam.

Tapi masuknya Islam ke Bonang, Lasem, berlangsung cukup damai. Tidak ada paksaan. Mengenai temuan kerusakan candi-candi Hindu di Desa Bonang, bukan sengaja dihancurkan. Melainkan karena faktor alam, adanya bencana gelombang tsunami yang pernah menerjang Bonang, jauh sebelum masa peralihan Hindu ke Islam.

Pecinta sejarah yang juga warga Desa Bonang, Sumarsono mengungkapkan tidak diketahui pasti berapa lama Wirabadjra memimpin Kadipaten Lasem. Tapi yang paling dikenang masyarakat secara turun temurun, Wirabadjra merupakan tokoh yang sangat gigih menyebarkan agama Islam. Setelah itu, Wirabadjra bergeser ke selatan Desa Bonang, tepatnya di Dusun Keben Desa Sriombo, untuk menetap sampai akhir hayatnya. Pusara makam Mbah Brawud berada di perbatasan antara Desa Bonang, dengan Desa Sriombo.

“Rikolo jaman sejarahe dadi Bupati wonten bumi Bonang, sakbadane niku ningali Bonang mpun katah santrine, terus Mbah Brawud geser menetap wonten bumi Keben, Sriombo sakniki ngantos sedo. Menawi pados panggenan sing rodo sepi, “ tuturnya.

Sumarsono menambahkan Adipati Wirabadjra menurunkan anak Pangeran Wiranagara atau Mbah Brayut, yang juga menduduki kursi Adipati Lasem. Setelah wafat, juga dimakamkan di Desa Sriombo, Kecamatan Lasem. Namun lokasinya berbeda dengan makam sang ayah. Ia menganggap petilasan tokoh-tokoh besar yang berjasa pada dunia Islam di Lasem dan sekitarnya ini, layak untuk selalu dijaga.

“Tiap tahun wonten haul Mbah Brawud, Mbah Brayut. Sasine apit utawi selo. Tilasane katah sanget, kabeh mono sejarah wonten datane ing sejarah Lasem, “ imbuh pria yang biasa disapa Mbah Sumar ini.

Menurutnya, semangat Mbah Brawud dalam menyebarkan agama Islam, menjadi pemicu bagi warga di bumi Bonang-Binangun untuk terus melanjutkan perjuangan beliau. Istiqomah demi Islam yang rahmatan lilalamin. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *