Mengenal Sosok Marsam, Lihai Membangun Ikatan Batin
Aktivitas Marsam, petugas PPL pertanian di Kecamatan Sluke, ketika turun ke desa – desa. Tak jarang ikut membantu petani membajak sawah.
Aktivitas Marsam, petugas PPL pertanian di Kecamatan Sluke, ketika turun ke desa – desa. Tak jarang ikut membantu petani membajak sawah.

Sluke – Petugas penyuluh lapangan (PPL) pertanian yang satu ini cukup terkenal di Kecamatan Sluke. Tidak hanya karena ramah, namun setiap hari juga aktif ke desa – desa menemui para petani. Bahkan tak jarang ikut terjun langsung membantu pekerjaan petani.

Yah..begitulah sekilas tentang sosok Marsam, PPL pertanian yang bertugas di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Sluke. Sejak awal ia menganggap penyuluh wajib rutin ke desa – desa. Walaupun per hari minimal setengah jam maupun 1 jam, ia tak mau melewatkan rutinitas tersebut.

Selama bertemu dengan petani, sering kali menerima banyak keluhan seputar masalah tanaman. Menurut Marsam, petani mau diberikan arahan – arahan, karena pada dasarnya mereka membutuhkan tauladan atau contoh, untuk mengembangkan sektor pertanian. Kalau dirinya sampai ikut membajak atau memanen padi, semata – mata merupakan cara membangun ikatan batin, agar petani lebih semangat bekerja.

“Saya habis masuk kantor, langsung bergegas ke lapangan. Sudah tak tekati, hukumnya wajib itu. Kan banyak masalah yang diungkapkan petani, prinsip kita semua masalah bisa diselesaikan. Lha kenapa saya ikut berlepotan lumpur di sawah, tujuannya untuk memotivasi petani mas, “ ungkap Marsam.

Pria asli warga Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem ini menambahkan ketika PPL berada di sawah, bisa langsung menyampaikan saran kepada petani, menyangkut pengendalian hama penyakit maupun cara memanen padi yang benar. Muara akhir tujuannya guna meningkatkan hasil produksi pertanian. Apabila meningkat, diharapkan kehidupan petani juga akan semakin sejahtera.

“Semisal waktu petani panen, kita ingatkan jangan asal – asalan dalam memanen. Saat merontokkan padi, mesinnya dikasih penutup, biar gabah nggak kemana – mana. Kan gini ya petani itu, ketika kita sering berkunjung. Besok kalau hasil pertaniannya jelek, akan merasa malu. Lha kalau bagus, pasti mereka bangga memamerkan sama kita, “ imbuhnya.

Marsam yang juga Koordinator BPP Kecamatan Sluke menyatakan ada 14 desa di Kecamatan Sluke. Jika melihat kondisi geografisnya, terbagi dalam dua kelompok besar, yakni pertanian di pinggir jalur pantai utara dan pertanian di kawasan pegunungan. Meski memiliki tantangan beragam, namun petugas penyuluh berusia 56 tahun tersebut optimis, potensi lahan pertanian di Kecamatan Sluke mampu dioptimalkan untuk mengangkat kesejahteraan petani. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *