Pergulatan Hidup Menyeng : Antara Emprak, Sampah Dan Kisah Lucu Tembus Ke Jakarta
Sarimin “Menyeng” (jarik putih lurik), ikon seni emprak ketika pentas di Desa Kebonagung, Kecamatan Sulang, Minggu malam (06/01).
Sarimin “Menyeng” (jarik putih lurik), ikon seni emprak ketika pentas di Desa Kebonagung, Kecamatan Sulang, Minggu malam (06/01).

Sulang – Meski sudah lama meninggalkan kampung halamannya di Desa Kuangsan Kecamatan Kaliori, namun tidak membuat Sarimin atau akrab dengan panggilan Menyeng, berhenti bermain seni emprak. Emprak merupakan seni khas tradisional Kabupaten Rembang, mirip seni lenong Betawi.

Saat masih tinggal di Desa Kuangsan, Sarimin “Menyeng” membuka usaha rosok (mengumpulkan sampah dan barang bekas) di kawasan Karangmencol, Desa Sumberejo, Rembang. Setelah gulung tikar, ia hijrah ke Semarang dan masih tetap bergelut dengan sampah. Menyeng bersama sang isteri berjualan nasi di dekat tempat pembuangan sampah (TPA). Pembeli di warungnya membayar dengan sampah, sedangkan untuk memasak juga menggunakan kompor gas yang dihasilkan dari pengolahan sampah dan kotoran sapi. Justru konsep tersebut membuat banyak yang tertarik mengupasnya lebih dalam. Termasuk program Talkshow sebuah stasiun TV nasional pernah mendatangkan Sarimin “Menyeng” dan isteri ke Jakarta, untuk diwawancarai khusus.

Nah..di tengah kepadatannya berjualan nasi di Semarang, Menyeng tidak melupakan dunia emprak yang telah membesarkan namanya. Minggu malam (06/01) misalnya, ia bersama seniman emprak lain yang tergabung dalam group Suko Wahyu Budoyo Desa Kuangsan, pentas di Desa Kebonagung, Kecamatan Sulang.

Dalam sebuah dialog emprak, Menyeng mengisahkan pengalaman kenapa meninggalkan usahanya di Karangmencol dan memilih mengadu nasib ke Semarang. Dengan ciri khas dialeg Rembangan, Menyeng sukses mengocok perut para penonton.

“Aku gak cocok kerja di Karangmencol. Kuwi kan kutho, mangan bayar, ngombe mbayar, nguyuh wae mbayar. Penghasilanku entek nggo nguyuh. Lha aku moro Semarang dodolan sego karo bojoku. Yang beli pakai sampah bayare, masake pakai gas pengolahan kotoran. Lha kuwi sing nggawe aku diundang ne Jakarta. Lagi pisan iki numpak pesawat moro Jakarta, “ tuturnya.

Kelucuan tak berhenti sampai di situ. Sarimin “Menyeng” menceritakan saat talkshow, sempat menginap di hotel. Mulai terkaget – kaget akibat mandi dengan shower yang mendadak keluar air panas mendidih, sampai pada menerima uang saku Rp 4 Juta dari penyelenggara talkshow.

“Shower angger tak kalungke ngono wae, metune banyu panas. Arep takon sopo, lha wong ning hotel ora nduwe tonggo. Bar kuwi arep sarapan, numpak lift. Salah mencet, tekane ning ngarep kamar mandi meneh. Soal bayaran, jujur nompo patang yuto. Bojoku mulih wetenge kembung kakean AC, entek duwite dinggo berobat. Gak opo – opo, sing penting wis iso numpak pesawat, “ kata Menyeng berkelakar.

Menyeng selama ini ibarat simbol seni emprak di Kabupaten Rembang yang terus bertahan di tengah modernisasi zaman dan gemerlap dunia hiburan. Di sela – sela pentas, dirinya mengaku akan terus bermain emprak, sampai tenaganya tidak kuat lagi. Satu misinya, ingin menjaga warisan budaya leluhur.

“Ya bolak – balik Rembang – Semarang mas. Meski jauh, sama temen – temen seniman emprak, masih komunikasi kok. Kalau ada tanggapan pentas, saya masih diajak. Saya sudah umur 55 tahun lebih, asal waktunya pas, pasti datang ke sini, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *