Ketika Air Minim, Dampak Plus Minus Untuk Tanaman Tembakau
Daun tembakau dikeringkan petani di Desa Megulung, Kecamatan Sumber.
Daun tembakau dikeringkan petani di Desa Megulung, Kecamatan Sumber.

Sumber – Minimnya air mengakibatkan pertumbuhan tanaman tembakau terhambat pada masa tanam kali ini.

Sucipto, seorang petani tembakau di Desa Megulung, Kecamatan Sumber menuturkan tanaman tembakau memang tidak membutuhkan banyak air, namun tetap harus cukup air. Kondisi saat ini kurang menguntungkan, karena sejak masa tanam pada bulan Mei lalu hingga sekarang, curah hujan sangat rendah atau bahkan nyaris belum pernah turun hujan deras.

Dampaknya, pertumbuhan tanaman kurang maksimal, sehingga jumlah daun pada tiap pohon berkurang. Ia membandingkan ketika air cukup, per pohon mencapai 25 lembar lebih. Tetapi sekarang untuk dataran rendah, rata – rata hanya 20 lembar. Itupun ukuran lebar daunnya lebih kecil. Hanya saja di sisi lain, cuaca panas membuat kualitas daun akan bagus.

“Tembakau itu kalau kebanyakan air juga rawan. Jadi airnya yang penting cukup. Lahan dataran rendah sama tinggi, tentu berbeda. Yang dataran tinggi, rata – rata jumlah daun per pohon antara 12 – 15 lembar. Untuk dataran rendah lebih banyak. Cuman karena airnya minim, ya nggak sebagus kalau sesekali turun hujan, “ jelasnya.

Sucipto menambahkan bagi petani yang tanam awal, mulai pertengahan bulan Juli sudah panen daun bawah. Kala itu usia tanaman menginjak masa 2 bulan. Namun karena gudang PT. Sadana Arif Nusa di Desa Kemadu, Kecamatan Sulang baru akan menerima hasil panenan petani tanggal 27 Agustus mendatang, maka setelah tembakau dikeringkan, harus ditimbun dulu.

“Ditimbun nggak masalah, asalkan sesuai dengan arahan petugas penyuluh. Kalau diurutkan, daun paling bawah kualitas rendah, yang tengah kualitas sedang dan paling bagus, biasanya yang daun atas. Kami nunggu saja bagaimana penilaian dari pihak perusahaan kelak, “ imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kecamatan Sumber, Marjuki menyatakan petani memang harus cepat menyesuaikan dengan kondisi cuaca kering. Selain mengandalkan sumur bor, solusi terakhir adalah membeli dari truk tangki.

“Kalau harga bagus, saya kira antara pengeluaran beli air dengan hasil penjualan, masih sebanding kok, “ kata pria warga Desa Tlogotunggal, Kecamatan Sumber ini.

Di Kabupaten Rembang sendiri, luas lahan tembakau tahun ini mencapai 3.500 Hektar atau meningkat 500 Ha, dibandingkan tahun 2017 lalu. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *