Kisah Kalisa Menahan Air Mata, Tak Disangka Ternyata Ini Penyebabnya (Sisi Lain Sekolah Rakyat Rembang)
Kalisa, siswi kelas 1 SD Sekolah Rakyat Kabupaten Rembang, yang baru saja kehilangan ayahnya.
Kalisa, siswi kelas 1 SD Sekolah Rakyat Kabupaten Rembang, yang baru saja kehilangan ayahnya.

Rembang – Kisah trenyuh dialami Kalisa, seorang anak dari Desa Krikilan, Kecamatan Sumber, yang menjadi siswi kelas 1 SD Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang, sebuah sekolah program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yang terletak di Desa Kaliombo Kecamatan Sulang.

Saat mayoritas teman-temannya siswa Sekolah Rakyat diantar oleh orang tuanya pada hari pertama masuk, Kalisa diantar oleh kakaknya.

“Diantar kakak,” ungkap Kalisa lirih.

Dengan mata berkaca-kaca, Kalisa menyatakan siap mengikuti proses pembelajaran di Sekolah Rakyat, meski harus tinggal di asrama, jauh dari rumah dan saudaranya.

“Ya semangat,” tuturnya singkat.

Tak banyak yang tahu, ternyata Kalisa memendam kesedihan mendalam dan berusaha menahan air matanya.

Yah..ayahnya Kalisa, Heri Sulistyawan (45 tahun) baru saja meninggal dunia, beberapa hari sebelum Kalisa masuk Sekolah Rakyat.

Kepala Desa Krikilan Kecamatan Sumber, Ahmad Adi Kurniawan membenarkan Kalisa adalah anak dari pasangan Heri Sulistyawan dan Jumini.

Heri sang kepala rumah tangga, baru saja meninggal dunia sekira seminggu yang lalu, karena sakit.

“Kalau tidak salah total anaknya itu 6, yang dik Kalisa ini anak nomor 5 atau 6 gitu. Jadi betul kalau masuk Sekolah Rakyat hari Jum’at kemarin, itu memang posisi bapaknya baru saja meninggal dunia. Ya wajar kalau diantar kakaknya, soalnya ibunya pasti ribet ngurusi anak di rumah,” ujar Kades, Senin (03 Agustus 2026).

Ahmad Adi menambahkan Kalisa berasal dari keluarga tidak mampu. Semasa hidup, orang tuanya bekerja serabutan.

“Bapaknya Almarhum kerja serabutan, pengobatan yang ngekop (bekam) itu lho pak. Kalau ibunya, ibu rumah tangga,” imbuhnya.

Ia pribadi berharap Kalisa kerasan menimba ilmu di Sekolah Rakyat, sekaligus memohon pemerintah pusat juga memperhatikan keluarga yang ada di rumah.

“Semoga kerasan di sana, mengingat keadaan di rumah, nuwun sewu dari keluarga kurang mampu. Informasinya pemerintah juga akan ada kebijakan bantuan untuk keluarga, semoga betul terealisasi. Apalagi bu Jumini yang baru ditinggal suaminya ini, saya kira sangat membutuhkan uluran tangan,” kata Kades.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang, Nurdin Fahrudi mengakui jumlah siswa SD Sekolah Rakyat sebanyak 10 anak, masih jauh dari target 90 anak atau 3 rombongan belajar.

Mengingat ketentuan siswa berasal dari keluarga tidak mampu kategori Desil 1 dan Desil 2. Mayoritas keluarga tidak tega melepaskan anaknya yang masih kecil, tinggal di asrama Sekolah Rakyat.

Meski demikian kalau ada anak dari keluarga tidak mampu, ternyata berasal dari Desil 3, masih ada kemungkinan peluang masuk Sekolah Rakyat.

“Prinsipnya keluarga miskin. Pleno terakhir kemarin, ada yang Desil 3 kemudian kita ajukan dan disetujui. Sekiranya ada anak usia kelas 1 SD dari keluarga tidak mampu dan belum sekolah, serta minat ke SR, berkabar saja. Nanti biar dikunjungi pendamping PKH, untuk diasesmen,” tandasnya.

Saat ini, siswa Sekolah Rakyat mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Terhitung mulai hari Senin (03/08) dan akan berakhir sampai tanggal 14 Agustus 2026. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.