Bupati Rembang Menahan Tangis, Wawancara Sempat Terhenti Sesaat (Solusi Mengatasi Kekurangan Murid SD Sekolah Rakyat)
Bupati Rembang, Harno bersama Kapolres dan Kasdim Rembang berada di kamar siswa dan kantin Sekolah Rakyat, Selasa (04 Agustus 2026).
Bupati Rembang, Harno bersama Kapolres dan Kasdim Rembang berada di kamar siswa dan kantin Sekolah Rakyat, Selasa (04 Agustus 2026).

Rembang – Bupati Rembang, Harno tampak menahan tangis haru, saat berkunjung ke Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang di Desa Kaliombo Kecamatan Sulang, Selasa pagi (04 Agustus 2026).

Harno bahkan sempat menghentikan sesaat wawancara, sebelum akhirnya kembali menjawab pertanyaan wartawan.

Harno mengaku baru kali pertama datang ke Sekolah Rakyat, karena ketika awal beroperasi hari Jum’at (31/07) lalu, dirinya ada kegiatan di Batang, memenuhi undangan Presiden.

Ia yang didampingi Kapolres dan Kasdim, menyapa siswa Sekolah Rakyat, terutama anak-anak SD.

Ketika ditanya apa yang dipesankan, Harno menahan tangis, karena sempat merasa tidak tega, anak-anak yang masih kecil harus berada di asrama dan berpisah dengan orang tuanya.

“Muda-mudahan bisa mengikuti semua pelajaran,” ucapnya singkat.

Terkait jumlah anak SD Sekolah Rakyat yang hanya 10, padahal targetnya 90 anak (3 kelas), Harno menyarankan perlu ada peningkatan Desil, sehingga calon siswa yang diterima tidak hanya dari kategori Desil 1 dan 2 saja.

“Ya bisa menaikkan desil, targetnya tidak terpenuhi. Kalau melihat situasi seperti ini, untuk melepas anaknya, orang tua belum tega ya,” terangnya.

Nurdin Fahrudi, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang menyatakan Kementerian Sosial sudah mulai fleksibel.

Jika ada anak dari keluarga Desil 3-5, ternyata setelah dicek keluarga tidak mampu dan yang bersangkutan minat masuk Sekolah Rakyat, bisa saja difasilitasi.

“Termasuk kalau ada Desil 6-10, kok dicek oleh petugas pendamping PKH ternyata layak, ya bisa diajukan dan akan kita proses, yang jenjang SD ini ya,” ujarnya.

Nurdin menambahkan siswa masuk Sekolah Rakyat tidak harus di awal tahun ajaran baru, tetapi bisa di tengah-tengah tahun ajaran.

“Untuk SD, usia kurang dari 7 tahun, kurang sedikit. Asal anak dan orang tua minat, akan dibantu,” kata Nurdin.

Menurutnya, target 3 kelas (rombongan belajar) untuk jenjang SD Sekolah Rakyat yang tidak terpenuhi, muncul rencana kuotanya akan dialihkan untuk jenjang SMP.

Dapat Laptop

Sementara itu, Wahyu Tri Setio Budi, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang mengamati anak-anak sudah mulai kerasan menikmati suasana baru.

Memang ketika ada jadwal orang tua berkunjung (sambang) di hari Sabtu dan Minggu, membuat sejumlah anak-anak jadi teringat lagi dengan rumah.

“Sehingga kita harus mereset lagi dari awal,” ungkapnya.

Tapi setelah sambang selesai, anak-anak kembali pada rutinitas biasa.

“Tadi malam dari Sluke itu, dijenguk ibunya. Anaknya bilang nggak usah bu, saya sudah kerasan di asrama. Anak saya biarkan berekspresi, ruang kepala sekolah temboknya sudah warna macem-macem, nggak apa-apa saya biarkan,” kata Wahyu.

Wahyu yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala Sekolah SMA Godong Kabupaten Grobogan ini menambahkan siswa dilarang membawa HP, karena nantinya tiap siswa akan memperoleh laptop untuk mendukung pembelajaran.

“Bawa HP termasuk larangan. Setiap anak nanti akan dapat 1 laptop, jadi tidak perlu bawa gadget,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.