“Bapak Penebang Tebu, Ibu Buruh Rajang Tembakau…” (Respon Siswa Sekolah Rakyat Rembang Saat Awal Masuk)
Senyum bahagia sejumlah siswa SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang.
Senyum bahagia sejumlah siswa SMP Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang.

Sulang – Sejumlah anak yang masuk Sekolah Rakyat Kabupaten Rembang di Desa Kaliombo Kecamatan Sulang, mengaku senang, bahkan kelak siap melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Ahmad Azril Arya Pratama, warga Desa Cabean Kecamatan Bulu mengungkapkan selain bertemu dengan banyak teman baru, menurutnya yang paling mencolok adalah bangunan sekolah sangat bagus dan besar.

“Senang sekali bertemu banyak teman. Gedungnya besar-besar, bagus-bagus,” ungkapnya.

Ia tak masalah harus berpisah dengan orang tua, karena kalau kangen, bisa dijenguk pada hari Sabtu dan Minggu.

“Bapak kerja nguli, ibu jualan. Kalau kangen, ya bisa dijenguk ke sini,” kata Ahmad.

Ahmad kini masuk Sekolah Rakyat jenjang SMP. Jika kelak sudah lulus, dirinya ingin tetap berada di Sekolah Rakyat, meneruskan ke jenjang SMA.

“Mau melanjutkan ke SMA, dengan nilai yang bagus,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Muhammad Khoirul Yahya, siswa SMP Sekolah Rakyat dari Desa Mlatirejo Kecamatan Bulu.

Baginya, awal masuk Sekolah Rakyat merasakan keseruan tersendiri, karena punya banyak teman.

“Tadi sudah langsung kenalan banyak temen dari luar desa,” tuturnya.

Ia membeberkan ayahnya bekerja sebagai penebang tebu, sedangkan ibu menjadi buruh rajang tembakau.

“Saya punya kakak, 1 orang,” kata Muhammad.

Muhammad Khoirul Yahya kelak juga ingin melanjutkan ke jenjang SMA Sekolah Rakyat, demi mewujudkan cita-citanya menjadi polisi.

“Semangat belajar, besok mau lanjut ke SMA. Cita-cita saya pengin jadi polisi,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang, Wahyu Tri Setio Budi menyatakan selama dua hari, sejak Jumat (31/07) petugas pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) ikut menginap di Sekolah Rakyat, guna membantu pengawasan anak-anak.

Pihaknya juga didukung Dinas Sosial, dengan mendatangkan psikolog. Selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dihadirkan pula motivator, agar anak-anak merasa termotivasi.

“Motivasi menyenangkan, biar seneng dulu. Kalau seneng, akan kerasan dan nyaman. Terima kasih untuk bapak ibu pendamping PKH, dua malam full tinggal di sini,” terang Wahyu.

Khusus HP (telefon selular), siswa Sekolah Rakyat saat ini tidak diperbolehkan membawa HP, supaya mereka lebih fokus mengikuti semua kegiatan. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.