
Rembang – Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang yang terletak di Desa Kaliombo, Kecamatan Sulang dilengkapi lapangan mini soccer berstandar Fifa, serta lapangan basket dan bola voli berstandar internasional. (Belum dibuka, masih disekat papan proyek_Red).
Kepala Sekolah Rakyat Kabupaten Rembang, Wahyu Tri Setio Budi menjelaskan hal itu, saat hari pertama siswa masuk melakukan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), Jum’at pagi (31 Juli 2026).
Ia menyebut fasilitas umum untuk olahraga sangat menunjang pengembangan minat dan bakat siswa.
“Laboratorium lengkap, mini soccer berstandar Fifa, lapangan basket dan bola voli standar internasional,” tuturnya.
Fasilitas umum untuk ibadah, terdapat bangunan Masjid yang sangat besar dan tempat ibadah bagi siswa non Islam.
“Saat siswa pertama kali datang, mereka ceria sekali, langsung sarapan di kantin. Mereka sangat senang,” ungkap Wahyu.
Hingga hari Jum’at, masih ada penggarapan bangunan yang belum selesai, yakni asrama putra dan putri untuk siswa SMP dan SMA.
Sambil menunggu proses selesai, sementara waktu mereka menempati ruangan asrama siswa SD.
“Itu pun masih tersisa beberapa bed, jadi sangat cukup, nggak ada masalah,” imbuhnya.
Pria asli Kabupaten Grobogan ini menambahkan meski siswa tinggal di asrama, namun orang tua bisa datang menjenguk putra putrinya pada hari Sabtu dan Minggu.
“Orang tua boleh menjenguk di hari Sabtu dan Minggu, setiap pekan, monggo,” kata Wahyu.
Menyangkut masalah air yang sempat ada kendala, menurutnya sudah teratasi berkat suplai air PDAM. Apalagi jika kelak Embung Kaliombo sudah jadi, dipastikan air akan lebih lancar.
“Masalah utama kemarin memang air yang masuk pas-pasan. Dengan bantuan Pemkab Rembang, luar biasa. Kita disuplai PDAM full. Kalau Embung Kaliombo sudah beroperasi, kita siap dengan pipa lebih besar (3 inchi),” terangnya.
Jumlah Siswa
Sementara itu, Teguh Gunawarman, Asisten Pemerintahan Dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Rembang sekaligus Ketua Tim Transisi Sekolah Rakyat berharap siswa langsung beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Orang tua tinggal mendo’akan, mengikhlaskan, terutama yang SD ini ya. Kami berharap program dari pemerintah pusat ini betul-betul dinikmati dan memberikan manfaat,” ujarnya.
Soal jumlah siswa jenjang SD yang semula 5 dan kini bertambah menjadi 10, masih jauh dari target 90 anak, Teguh mengakui pemerintah tidak bisa memaksa orang tua untuk melepaskan anaknya masuk ke Sekolah Rakyat.
“Namanya anak SD melekat terus ke orang tua, terutama ibunya. Jadi mengalir saja. Harapan kita semoga anak suka, kerasan dan tahun depan bisa bertambah lagi. Usulan-usulan dari masyarakat akan kita bahas di rapat-rapat tingkat pimpinan,” ungkap Teguh.
Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang yang menelan anggaran sekira Rp 200 Miliar dari pemerintah pusat, mulai beroperasi Jum’at pagi (31 Juli 2026).
Sebanyak 220 anak mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Rinciannya, SD 10 anak, SMP 90, SMA 90. Khusus jenjang SMA, ada tambahan 30 anak dari Kabupaten Blora, karena di sana belum memiliki gedung sendiri.
Para siswa ini berasal dari keluarga tidak mampu kategori Desil 1-2, sehingga tidak sembarangan siswa bisa masuk Sekolah Rakyat. (Musyafa Musa).

