Banyak Menu MBG Tak Dimakan Di Kab. Rembang, Warga Dukung Stop Bayar Pajak
Menu MBG tak dimakan siswa di Kabupaten Rembang. Tampak yang diambil hanya susu kotaknya saja, sedangkan yang lain dibiarkan.
Menu MBG tak dimakan siswa di Kabupaten Rembang. Tampak yang diambil hanya susu kotaknya saja, sedangkan yang lain dibiarkan tergeletak di atas meja.

Rembang – Hingga saat ini belum ada solusi untuk mengatasi masih banyaknya menu MBG yang tidak dimakan siswa di Kabupaten Rembang.

Pantauan di sejumlah sekolah, saat ada menu MBG berupa nasi, sayur, lauk, buah dan susu kotak, rata-rata yang diambil oleh siswa hanya susunya saja.

Sedangkan nasi, sayur, buah, maupun lauk masih banyak yang dibiarkan. Kalau pun dimakan, tak maksimal.

Seorang guru salah satu SMP N di Kabupaten Rembang mengaku tak bisa memaksa siswa untuk menghabiskan menu MBG.

“Gimana mau memaksa mas, namanya ngopeni siswa banyake gitu. Ompreng nggak hilang saja, sudah bagus,” ungkapnya.

Ia menimpali nasi dan lauk yang tidak dimakan siswa, biasanya dikumpulkan ke dalam plastik. Setelah itu, digunakan untuk pakan lele dan pakan ayam.

“Jumlahnya setiap hari itu banyak sekali, saya sebagai guru ya cuman ngelus dada. Tapi mau gimana, wong program pusat. Kebetulan di sekolah ada kolam lele, ya kalau nggak dimakan siswa, bisa untuk pakan lele,” imbuhnya.

Siswa salah satu SD N di Rembang menyebut setiap hari, masih banyak menu MBG di kelasnya tak dimakan. Selanjutnya dimasukkan ke dalam plastik dan dibawa pulang guru.

“Alasannya paling sering, menu MBG nggak enak, atau bau ompreng bau, sehingga nggak selera. Seperti itu tiap hari,” ujarnya.

Ditemui terpisah, seorang warga mengaku bertempat tinggal dekat dengan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia sering meminta nasi ke SPPG tersebut, untuk pakan ayam.

“Miris mas, saya lihat sendiri tumpukan nasi sisa MBG berbakul-bakul ukuran besar, setelah omprengnya dibersihkan pekerja SPPG, usai pengambilan dari sekolah-sekolah,” kata warga tersebut.

Melihat uang negara tak sesuai target sasaran semacam itu, ia sendiri sangat setuju apabila program MBG dihentikan.

Kalau mau tetap dilanjutkan, lebih baik diberikan khusus kepada siswa Sekolah Rakyat saja atau keluarga tidak mampu yang benar-benar membutuhkan.

“Kalau program seperti ini diterus-teruskan salah sasaran, akan sangat menguras keuangan negara, yang kebanyakan bersumber dari pajak rakyat,” bebernya.

Ia pun sangat mendukung seruan dari berbagai kalangan agar masyarakat berhenti membayar pajak, kalau program MBG tidak dihentikan atau tidak dievaluasi total oleh pemerintah.

“Mbok pemerintah itu sadar, carilah program yang lebih tepat. Sudah banyak yang terbuang mubadzir, rawan dikorupsi lagi. Masak kita harus bayar pajak, hanya untuk buang-buang anggaran atau dikorupsi,” keluhnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.