
Sedan – Hingga hari Minggu (05 April 2026), tambang pasir kuarsa di Dusun Sumberagung (Galanter) Desa Sambiroto, Kecamatan Sedan tidak beroperasi, pasca protes masyarakat, hari Sabtu kemarin (04/04).
Posisi alat berat beckhoe yang akan masuk ke area tambang, masih tertahan di pinggir jalan, karena warga setempat melarang lewat.
Sejumlah warga Dusun Sumberagung tetap mendesak, supaya tidak ada tambang beroperasi.
Mereka menyebut dulu tambang pasir kuarsa ada beberapa titik. Namun sekarang tinggal 1 lokasi, statusnya milik warga Desa Sambiroto.
Hilir mudik truk pasir dianggap sudah mengganggu kenyamanan masyarakat. Apalagi setelah hujan, sisa-sisa bekas ceceran muatan truk, membahayakan pengguna jalan.
“Sudah sering anak sekolah jatuh terpeleset. Kita warga yang membersihkan. Mana tanggung jawab penambang,” kata warga Dusun Galanter.
Warga menduga tambang yang masih beroperasi sekarang, berstatus ilegal alias tidak berizin. Jika benar ilegal, maka seharusnya aparat dan dinas terkait langsung menindak tegas, dengan melakukan penutupan.
“Soalnya kalau mau ada operasi, alat berat dan truk tidak nampak di lokasi. Kayak diam-diam gitu. Kalau berizin kan harusnya santai saja, nggak seperti itu. Kami mendesak aparat jangan diam saja,” bebernya.
Upaya warga, sempat memicu ketegangan dengan pengelola tambang, JM, yang merupakan anak salah satu perangkat desa Sambiroto. Adu mulut pun tak terelakkan.
Dari rekaman video yang beredar, JM bahkan sempat merangsek maju ingin mendekati kerumunan warga, namun berhasil ditenangkan warga lain, sehingga tidak sampai memicu perkelahian.
Sementara itu, Kepala Desa Sambiroto Kecamatan Sedan, Muhammad Abdul Haris ketika dikonfirmasi menanggapi tambang pasir kuarsa menempati tanah pribadi.
“Masalah niku ketingale ko ilegal, cuma satu niku,” tuturnya.
Abdul Haris menambahkan jalan rusak yang disoroti warga dan sempat diperbaiki masyarakat, panjangnya hanya sekira 4 Meter.
“Niki namung nyeberang mawon, selebihnya tanah pembebasan yang dibeli pihak penambang,” imbuh Kades.
Atas kejadian tersebut, pihak desa akan melakukan mediasi. Namun untuk sementara waktu, menunggu situasi yang tepat.
“Akan kita mediasi, tapi kondisi masih agak kebawa emosi, biar untuk sementara kersane adem rumiyin,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

