Bayi Sempat Nangis Usai Membentur Beton Pemecah Gelombang, Kondisi Terkini Bayi Dan Ibunya Di RSUD Rembang
Nur Fuad Wafi, pembopong bayi dari TKP ke RSUD dan Direktur RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, dr. Samsul Anwar.
Nur Fuad Wafi, pembopong bayi dari TKP ke RSUD dan Direktur RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, dr. Samsul Anwar.

Rembang – Video seorang pemuda yang membopong bayi laki-laki di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. R. Soetrasno Rembang sempat viral di media sosial. Ia kala itu menolong bayi yang dibuang ke laut, sekaligus membawanya ke rumah sakit.

Belakangan pemuda tersebut diketahui bernama Nur Fuad Wafi (25 tahun), warga Desa Pandean, Rembang.

Nur Fuad menceritakan ia bersama dua orang rekannya, Riyan Ade Saputra (26 tahun), asli warga Desa Pandean yang menetap di Desa Bakaran Wetan Juwana Kabupaten Pati dan Hilda Choirur Rahman (21 tahun) warga Kelurahan Magersari Rembang, memancing ikan di pinggir pantai sekitar bangunan Bumdes Pandean.

“Waktu itu saya mancing di sisi utara sama mas Choirur (Irul), sedangkan mas Ryan terpisah di sebelah timur,” ujarnya.

Tiba-tiba Riyan berteriak-teriak meminta tolong, usai berhasil menarik sebuah plastik kresek berwarna merah, dengan menggunakan pancing.

Riyan menyampaikan tas kresek itu dibuang oleh seorang wanita. Posisi tas kresek semula agak ke tengah, tapi terseret ombak menuju pinggir dan menghantam beton pemecah gelombang. Sempat terdengar suara tangisan.

“Jadi kenapa mas Riyan curiga, karena ombaknya kan agak pasang. Plastik itu membentur tembok pemecah gelombang. Ada suara kayak tangisan. Ditarik pakai pancing, karena nggak tahu itu bayi manusia apa kucing,” imbuh Wafi.

Setelah plastik dicek, baru mengetahui isinya bayi. Plastik yang ditarik dengan pancing, mengakibatkan mata pancing nyanthol ke kulit bayi, di bagian punggung bawah sebelah kiri, sehingga menimbulkan luka.

Selanjutnya mata pancing diputus dengan menggunakan tang. Waktu itu, bayi belum ada respon tanda-tanda kehidupan.

“Tapi kita tahu, matanya sempat berkedip sekali,” ungkapnya.

Karena kondisi bayi kedinginan, Riyan berinisiatif melepas bajunya dan dibantu kain sarung dari warga sekitar. Bayi dibawa ke rumah bidan desa dulu dan disarankan langsung ke RSUD saja.

Menurutnya, penanganan dari pihak rumah sakit, tergolong cepat, karena kemungkinan butuh koordinasi.

“Saya bawa bidan desa, bu bidan ya kaget, nggak biasa kan ada pembuangan bayi. Waktu perjalanan ke rumah sakit, kaki bayi sempat nendang tangan saya, kaget saya. Tapi lega, berarti masih ada tanda-tanda kehidupan. Tiba di rumah sakit, cepat kok penanganannya. Kalau ada delay, karena mungkin ya kaget juga dan butuh koordinasi,” beber Wafi.

Wafi mengaku sangat lega bisa menyelamatkan nyawa bayi. Soal proses hukum ibunya yang membuang, ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

“Saya bersama dua rekan sudah dimintai keterangan di Polres Rembang, hari Minggu kemarin (16/11). Kalau nggak salah dari Dzuhur sampai jam 4 sore,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, wanita pendatang dari Bangkalan Madura Jawa Timur, berinisial LA (20 tahun) diduga membuang bayi laki-laki, usai melahirkan. Ia mengira bayi sudah meninggal dunia, sehingga dibuang ke laut.

Bayi diduga hasil hubungan di luar nikah, sehingga ada beban perasaan malu. Baik bayi maupun ibunya, sama-sama masih menjalani perawatan di RSUD Rembang, sampai Selasa pagi, 18 November 2025.

“Kalau ibunya sudah bisa pulang hari Selasa ini, nunggu jemputan polisi. Untuk bayinya belum, karena masih perawatan di inkubator. Kita sudah pertemukan antara ibu dan bayinya mas,” kata dr. Samsul Anwar, Direktur RSUD dr. R. Soetrasno Rembang. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.