
Lasem – Dugaan keracunan MBG kembali terjadi. Kali ini menimpa siswa MTs N Lasem atau MTs N 1 Rembang, Rabu (09 September 2026).
Gejalanya sama, yakni perut mual dan diare, sejak Selasa malam, usai mengonsumsi MBG dari SPPG Bonang.
Seorang guru di MTs N Lasem ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp mengatakan hanya ada beberapa siswa yang mengalami diare.
Tapi sudah bisa langsung ditangani di ruang UKS. Ia mengklaim tidak mengganggu kegiatan pembelajaran.
Selain itu, beberapa siswa lain diizinkan untuk istirahat di rumah.
“Betul ditangani di UKS dan beberapa diizinkan untuk pulang, istirahat di rumah. Kalau jumlah persisnya, saya belum tahu,” ungkapnya.
Kepala Sekolah MTs N Lasem, Muhammad Yunus Anis meminta untuk menanyakan langsung kepada pihak Puskesmas, terkait penyebab gejala keracunan.
“Puskesmas Lasem yang melakukan screening. Saya tanya berapa persen yang terimbas, juga belum ada jawaban,” terang Yunus Anis.
Tapi Yunus menyebut informasi dari guru menyampaikan bahwa siswa di sekolahnya aman.
“Bisa dilaporkan ke wali murid bahwasanya anak-anak AMAN tidak ada yang keracunan,” tandasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang, Ali Syofi’i, Rabu pagi mengaku prihatin atas rentetan dugaan keracunan MBG di Kecamatan Lasem.
Sebelumnya, dalam waktu kurang dari sepekan, terjadi dugaan keracunan MBG di SMA N 1 Lasem dan MAN Lasem.
Pihaknya siap memberikan masukan kepada SPPG maupun pihak terkait, lebih mengedepankan aspek keamanan pangan dan kebersihan.
“Mulai persiapan logistik, pemilahan bahan baku, proses masak, pengemasan, hingga distribusi. Kepatuhan-kepatuhan standar operasional ini yang harus diperhatikan dan jangan ada yang terlewati,” tutur Ali.
Ali juga menyebut akan mengumpulkan SPPG dan mitra, supaya kejadian serupa tidak terulang lagi.
“Akan kita kumpulkan, beri pembinaan khusus,” imbuhnya.
Banyak kalangan di Kabupaten Rembang menyampaikan kekhawatiran, atas kejadian dugaan keracunan MBG yang terus berulang.
Kalau pemerintah masih tetap ngotot mempertahankan program, mereka menyerukan supaya orang tua/wali murid secara resmi menolak melalui sekolah, sehingga nantinya tidak dijatah MBG lagi.
“Kalau nolak bersurat saja secara resmi, sekolah meneruskan ke dapur, supaya tidak dijatah lagi. Kalau nolak hanya sebatas nolak, khawatirnya tetap dijatah oleh dapur MBG. Ujung-ujungnya duwit negara tetap menganggarkan, MBG akhirnya terbuang dan menjadi pakan ayam. Makanya orang tua harus kompak, jika pengin nolak. Biar ketahuan jumlah pengurangannya berapa, drastis apa nggak,” kata Sulaiman, seorang warga di Rembang. (Musyafa Musa).

