
Rembang – Tingkat fatalitas kecelakaan di wilayah Kabupaten Rembang, menempati posisi lima besar se-Jawa Tengah.
Data tersebut diperoleh seusai giat Operasi Patuh Candi bulan Agustus lalu.
Kasat Lantas Polres Rembang, AKP Ryan Mitha Pangesty menuturkan kalau dilihat dari sisi fatalitas, kecelakaan di Kabupaten Rembang perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.
“Kalau tidak salah, kita berada di nomor dua pak. Saat giat operasi patuh, relatif terkendali. Tapi setelah giat operasi patuh, justru meningkat. Satlantas Rembang harus paparan ke Polda,” ujarnya didampingi Kanit Penegakan Hukum Satlantas, Ipda Rahmat Hersa Widiatmoko.
Ia menyebut hal itu bukan ditentukan berdasarkan jumlah kecelakaan lalu lintas. Namun mengacu tingkat fatalitas atau dampak korban yang meninggal dunia.
“Kalau angka kejadiannya, kita masih lebih rendah ketimbang beberapa daerah lain. Tapi fatalitasnya jumlah korban, Rembang termasuk tinggi,” imbuh Mitha.
Mitha menambahkan pihaknya mempunyai program mengunjungi korban laka, sebagai bentuk perhatian, sekaligus menguatkan edukasi kepada masyarakat.
“Setidaknya seminggu sekali kita agendakan, sudah terjadwal. Mereka para korban merasa diperhatikan dan mendapatkan sambutan hangat,” terangnya.
Jika mengacu data angka kecelakaan, sepanjang bulan Januari – Agustus 2025, ada 317 kali kejadian. Korban meninggal dunia sebanyak 70 orang dan 338 orang luka ringan.
Sedangkan selama tahun 2024 kemarin, ada 322 kali kejadian, dengan rincian 77 orang meninggal dunia dan 322 luka ringan.
Mitha mengungkapkan panjangnya jalur Pantura di Kabupaten Rembang, yang didominasi truk-truk besar menjadi salah satu faktor. Apalagi Rembang belum memiliki jalan lingkar, sehingga arus kendaraan terpusat dalam satu jalur.
“Disamping juga ada faktor kesalahan manusia (human error), maupun faktor kondisi jalan. Semoga dari data tersebut, kita semua lebih peduli dan berhati-hati saat berkendara di jalan raya,” pungkas perwira polisi asli Desa Sinomwidodo Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati ini. (Musyafa Musa).

