
Rembang – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Rembang angkat bicara, terkait dua kasus beruntun aparatur sipil negara (ASN) meninggal dunia, diduga karena bunuh d*ri.
Kepala BKD Rembang, Arif Romadhlon mengaku prihatin atas dua kejadian tersebut.
Menurutnya, lebih karena terpicu beban pribadi. Tidak ada kaitan dengan beban kerja sebagai ASN.
“Kalau saya menilai beban pribadi ya, bukan karena beban kerja, karena kerja ASN ya seperti itu, hampir sama memiliki rutinitas,” terangnya.
Arif menyarankan ASN bisa mengatur waktu dengan baik, antara kehidupan pribadi, kebersamaan keluarga dan rutinitas pekerjaan.
Kalau dari sisi kerja, tetap memberikan sumbangsih optimal. Namun jangan sampai membebani pikiran berlebihan.
“Kerjanya maksimal, tapi jangan terlampau diforsir, sampai membebani pegawai, ya jangan sampai terjadi lah. Sesuai standar, tapi tidak terlalu membebani,” imbuh Arif.
Sebelumnya, tanggal 11 Agustus 2025, seorang ASN perempuan Dinas Perumahan Dan Kawasan Perumahan (DPKP) meninggal dunia di sisi timur Pelabuhan Tasikagung, diduga bunuh d*ri karena berbagai beban pasca melahirkan anak pertama.
Setelah itu, tanggal 11 September 2025, seorang ASN laki-laki Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah (BPPKAD) ditemukan meninggal dunia di Bendungan Desa Mrayun Kecamatan Sale, bunuh d*ri dengan menggorok lehernya sendiri, diduga karena motif gagal melamar wanita pujaan hati.
Selain tanggal kejadian sama, usia kedua korban juga sama-sama 28 tahun. (Musyafa Musa).

