
Rembang – Kalangan pecinta olahraga mengusulkan supaya Jalan Pemuda Rembang, dari Perempatan Galonan sampai Bundaran Pasar, tiap Minggu pagi dari pukul 05.00 – 08.00 Wib menjadi jalur car free day (CFD) dan dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk pusat olahraga masyarakat.
Ferdinansyah, seorang pecinta olahraga di Rembang beralasan jalur tersebut lurus, panjang dan lumayan lebar. Kalau hanya mengandalkan Alun-Alun Rembang, menurutnya sudah terlalu padat kerumunan.
“Saya kira akan menjadi pembeda yang menarik bagi pemerintahan pak Harno dan Gus Hanies, kalau ini bisa terealisasi,” ungkapnya.
Selain itu, dengan adanya car free day selama 3 jam di jalan Pemuda, akan mampu menggerakkan roda ekonomi bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM).
“Jangan hanya 1 atau 2 bulan selesai, tapi bagaimana ini bisa terus berkelanjutan. Mengingat gairah masyarakat untuk berolahraga semakin meningkat. Nggak hanya lari saja, ya bersepeda, jalan kaki, pasti akan bermunculan banyak kreativitas nanti,” bebernya.
Ia mengusulkan penutupan dimulai dari Bundaran Pasar, alasannya pengalihan mobil-mobil kecil bisa langsung masuk Sumberjo dan tembus Perempatan Puskesmas Mondoteko.
Sedangkan kendaraan besar dari jalur Pantura yang ingin ke Blora dan arah sebaliknya, dapat melintas dari Pasar Penthungan maupun Pertigaan Soklin Tireman, tembus Perempatan Galonan.
“Nanti di Bundaran Tugu Adipura depan DPRD dikasih info peringatan, supaya truk besar tidak masuk dalam kota. Kalau ini rutin, pasti pengguna jalan lambat laun akan hafal. Sedangkan peserta car free day yang bawa kendaraan, disiapkan kantong parkir di kanan kiri jalan Pemuda. Kan bisa misalnya jalan depan Stadion Krida ke utara sampai bundaran pasar, full untuk parkir kendaraan pengunjung car free day. Jalan depan Stadion Krida ke Selatan, khusus buat olahraga. Soal rekayasa lalu lintas, polisi dan Dishub pasti sudah ahli mas,” imbuh Ferdinansyah.
Tanggapan Bupati
Mochammad Topan EW, warga Desa Ngotet yang juga guru olahraga mengaku sangat mendukung gagasan tersebut.
Ia menyebut ide itu cemerlang. Kalau ada car free day antara Galonan sampai Bundaran Pasar, jaraknya sudah tepat, sekaligus memberikan keleluasaan bagi warga yang ingin berolahraga.
“Saya sempat ada gambaran gitu juga, saat ada event lari Bhayangkara Run belum lama ini. Saya yakin maksimal dan aman dari lalu Lalang kendaraan, karena ada pengkondisian,” kata Topan.
Deva Hardian, seorang pelari pemula di Rembang berpendapat gagasan itu sangat menarik dan akan menjadi warna baru.
Ia merasakan lari di Alun-Alun Rembang sudah tidak kondusif, karena terlalu ramai pengunjung dan padat pedagang.
“Di Alun-Alun buat lari Minggu pagi, jujur kurang nyaman. Kalau di Jalan Pemuda buat CFD-an, sangat mendukung sekali. Jadi kita Minggu pagi punya 2 titik Sunmor (Sunday Morning), pertama di pusat kota Alun-Alun dan di Jalan Pemuda. Masuk akal sekali, jadi nggak sabar menunggu,” ucap Deva.
Pelaksana Tugas Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Rembang, Zaenal Arifin juga mendukung ide tersebut.
Menurutnya, car free day tidak sekedar sarana olahraga dan refreshing, tapi bisa menjadi ajang masyarakat berkumpul, bertemu dan mempererat tali silaturahmi, sebagai sesama warga Kabupaten Rembang.
“Kan seminggu sekali itu, kalau masyarakat sudah mau punya rasa untuk olahraga, yang pasti bagus untuk kesehatan. Suasana ketemu dengan temen, kolega dan keluarga, hal ini juga baik untuk membangun komunikasi, demi kondusivitas daerah,” ujarnya.
Zaenal berharap ide menarik ini dapat ditangkap Pemkab Rembang sebagai masukan bagus.
“Pemda semoga bisa segera berembug dengan pihak terkait. KONI sangat mendukung. Bisa juga alternatif lain, car free day dari Perempatan Jaeni sampai ke depan SMP N 3, misalnya ya. Pokoknya di mana pun lah, yang penting bisa bermanfaat buat masyarakat,” tandas Zaenal.
Sementara itu, Bupati Rembang, Harno berjanji akan membahas usulan tersebut.
“Ya mas, akan saya bahasnya,” tegas Bupati saat dikonfirmasi Minggu siang 14 September 2025. (Musyafa Musa).

