
Sale – Berangkat dari keluarga tidak mampu, Rehan Mohammad Amin (19 tahun), pemuda warga Desa Wonokerto Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang mampu membuktikan tekad kuatnya, lolos menjadi anggota Tamtama TNI tahun 2025.
Rehan adalah anak nomor 6 dari total 9 bersaudara. Ia bersama keluarganya menempati rumah di atas lahan menumpang milik PT Kereta Api Indonesia (KAI), Desa Wonokerto.
Tasri, ibunda Rehan mengisahkan tiap pulang sekolah dari SMK N I Sale, anaknya kerap membantu ayahnya, Umbar mencari bekicot pada malam hari.
“Biasanya berangkat jam 7 malam, kemudian jam 10 anaknya pulang. Dia memahami kondisi orang tuanya begini. Rata-rata dapat Rp 50 Ribu, bekicot dijual ke Besowo Tuban Jawa Timur, buat menyambung hidup,” ujarnya, Senin (04 Agustus 2025).
Ketika menjelang pendaftaran TNI pada bulan Mei 2025, Rehan rela menjadi buruh penutup terpal truk tambang.
Uangnya dikumpulkan, lalu digunakan untuk memfoto copy berkas pendaftaran, membeli stop map, baju putih dan membantu ongkos transport, karena ia tidak ingin membebani orang tua.
“Waktu itu ya saya tanya, apakah sudah mantep mau daftar TNI. Anaknya bilang gini, sudah mak, do’akan saja saya menjadi orang sukses, biar mak bisa makan dan nggak punya banyak hutang. Ketika ada kurang-kurangnya beli materai dan ongkos wira-wiri, dibantu sama mbaknya,” imbuh Tasri.
Sambil mengusap air mata, Tasri mengakui pada awalnya banyak yang meremehkan Rehan, karena dari keluarga tidak mampu, tapi berani mendaftar TNI.
“Lhah iyo anake wong ora duwe, nggo mangan wae angel (lhah iya anaknya orang tidak mampu, untuk makan saja sulit_Red), kok wani daftar TNI. Anaknya cerita begitu, alhamdulillah suara-suara miring, nggak terlalu dimasukkan hati,” bebernya.
Tak Bisa Tidur
Setelah melalui proses seleksi cukup panjang, akhirnya Rehan diumumkan lolos dan sekarang mengikuti pendidikan prajurit infanteri di Klaten. Semua murni atas berkah Allah SWT dan kerja keras anaknya, tidak ada uang sogokan, apalagi nitip panitia orang dalam.
“Uang dari mana pak, nggak mampu. Jangankan puluhan atau ratusan juta, uang ratusan ribu aja nggak punya. Fokusnya paling cuma buat makan, wong dulu ya pernah kita dikasih dari tetangga, karena betul-betul nggak punya beras,” ucap Umbar menimpali.
Tasri dan suaminya, Umbar belum sempat ketemu Rehan. Kemungkinan kelak setelah pendidikan selesai, baru bisa berjumpa.
“Pengumuman waktu itu diterima kan jam 00.30 dini hari. Kita serumah ya seneng sekali, habis itu nggak bisa tidur. Semoga mas Rehan di sana lancar, sehat, mugo-mugo diparingi slamet,” pungkas Tasri.
Kepala Desa Wonokerto Kecamatan Sale, Asrofi mengaku pihaknya ikut merasa senang dan bangga.
“Mas Rehan ini anaknya baik dan patuh sama orang tua,” tandasnya.
Asrofi juga tidak pernah menyangka Rehan berhasil lolos seleksi. Ia berpesan kedepan menjadi anggota TNI yang baik dan jangan lupa dengan keluarga.
“Kalau ketemu saya ya menyapa, mbok takoni wis seneng. Nggak berharap dikasih apa-apa, saya ikut bangga,” imbuh Kades.
Sementara itu, Babinsa Desa Wonokerto, Serda Heru Prasetyo menyebut kisah perjuangan Rehan bisa menjadi inspirasi untuk kaum muda lainnya.
“Saya perhatikan mas Rehan ini sejak awal menonjol, karena punya niat, tekad dan motivasi yang tinggi,” ujarnya.
Selama pendampingan dari Koramil Sale saat menjelang pendaftaran, menurutnya Rehan sangat semangat. Pada gelombang kali ini, ada 8 pemuda dari Kecamatan Sale yang diterima menjadi Tamtama TNI.
“Mulai dari latihan lari, push up, pull up, dia rutin aktif. Bahkan latihan mandiri di rumah. Pendidikan Infanteri di Klaten perkiraan hampir dua bulan,” kata Serda Heru.
Untuk pendaftaran gelombang berikutnya, Serda Heru mempersilahkan masyarakat yang berminat menjadi anggota TNI, untuk menyiapkan diri sebaik mungkin.
Jangan pernah merasa berkecil hati, meski tak punya banyak uang, karena selama proses seleksi tidak dipungut biaya. (Musyafa Musa).

