
Rembang – Pengembangan talas beneng cukup prospektif, namun masih belum banyak petani di Kabupaten Rembang yang mencoba.
Talas beneng merupakan jenis tanaman unik, karena daunnya berfungsi sebagai pengganti tembakau, tanpa mengandung nikotin, sehingga bisa menjadi bahan baku rokok herbal.
Sedangkan umbinya dapat diolah untuk keripik dan olahan makanan lainnya.
Pendiri Ulu Benu Nature yang memberikan pendampingan budidaya talas beneng, Arin Ike Kristanti mengatakan pernah membuat area percontohan talas beneng di Kecamatan Gunem.
Dari penyediaan bibit hingga pemasaran, pihaknya sudah siap membantu. Tapi luasnya belum bisa bertambah, karena semua itu butuh usaha dan keuletan petani.
“Kita sudah mengusahakan semaksimal mungkin, karena pada awalnya memang pengin mengangkat potensi. Tapi kan nggak semua orang bisa semisi sejalan, mindset mungkin berbeda ya. Jadi yang di Kecamatan Gunem baru sebatas project percontohan,” tuturnya.
Arin Ike menambahkan kemitraan pengembangan talas beneng sedang dioptimalkan di sejumlah daerah, salah satunya Yogyakarta.
Olahan tanaman ini juga menarik perhatian saat berlangsung event suistainable food camp di Malaysia, beberapa waktu lalu.
Kebetulan perwakilan dari Indonesia hanya 4, salah satunya produk olahan talas beneng yang digagas penyedia bahan baku, Ulu Benu Nature (PT Rizqi Aulia Sejahtera).
“Itu undangan Leave A Nest Jepang dan Malaysia, Ajinomoto sebagai main partnernya. Setelah itu ada tindak lanjutnya, kunjungan ke sini,” imbuh wanita asli Kelurahan Leteh, Rembang yang tinggal di Yogyakarta tersebut.
Harga Bibit
Menurutnya, tantangan terberat adalah meyakinkan para petani untuk mencoba.
Modal awal relatif terjangkau, karena bibit talas beneng kisaran Rp 2.500 – 3.000 per batang.
Talas dapat ditanam di lahan pekarangan maupun perkebunan, perawatan mudah, tidak menggunakan pupuk kimia dan setelah 4 bulan menanam, bisa panen berkali-kali, bahkan sebulan sekali.
Sekali panen, petani dapat meraup penghasilan jutaan rupiah, tergantung banyak sedikitnya tanaman.
Faktor cuaca juga turut berpengaruh. Semakin tinggi curah hujan, umumnya tanaman akan tumbuh lebih maksimal.
Terkait pemasaran, petani tidak perlu khawatir, karena belakangan ini sudah semakin banyak pihak-pihak yang siap membeli daun dan umbinya. (Musyafa Musa).

