
Sulang – Sembilan rumah warga Dusun Kedunglowo Desa Landoh Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang terdampak bencana tanah gerak.
Lokasi berada di pinggir sungai, sehingga bencana semakin diperparah oleh gerusan arus sungai.
7 rumah sudah dipindah karena rusak berat, sedangkan 2 rumah warga lainnya masih bertahan di sekitar lokasi.
Sugiman, seorang warga Dusun Kedunglowo mengaku menempati lahan tersebut sejak tahun 2005 lalu. Setelah kondisi bencana tanah gerak semakin membahayakan, rumahnya rusak berat.
Sugiman masih ingat betul, tiap kali hujan deras, dirinya tidak bisa tidur, karena takut rumahnya hanyut. Ia memutuskan pindah tahun 2023 kemarin.
“Awalnya ada rekahan tanah, dikit-dikit kemudian semakin dalam turunnya tanah. Rumah saya sudah miring. Kalau nggak pindah, pasti rumah tidak bisa diselamatkan,” tutur Sugiman.
Pada hari Kamis (16 Mei 2024), Pemkab Rembang menyalurkan bantuan dari Provinsi Jawa Tengah kepada para korban bencana tanah gerak.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, Sri “Anjar” Jarwati mengatakan total bantuan uang tunai sebesar Rp 125 Juta.
Rinciannya, Rp 15 Juta untuk masing-masing pemilik 7 rumah yang sudah pindah.
Sedangkan Rp 10 Juta untuk masing-masing 2 pemilik rumah yang masih bertahan di sekitar lokasi bencana.
Sri memastikan bantuan sudah disalurkan ke rekening tabungan korban bencana, tanpa dipotong sepeserpun.
“Kalau bencana lebih dari 5 rumah, kami bisa mengajukan bantuan ke provinsi. Di Kedunglowo ini ternyata bisa kita ajukan dan alhamdullilah disetujui provinsi. Bantuan sudah ditransfer, langsung ke rekening warga,” tandasnya.
Sri menimpali BPBD sudah pernah memasang tanggul darurat, dari tumpukan karung dan pagar bambu di lokasi bencana. Tapi karena beberapa kali diterjang luapan sungai, akhirnya tidak kuat bertahan lama.
“Pergerakan tanah ini kan cepat juga nggak, tapi cenderung lambat. Paling parah di tahun 2023. Dari sisi darurat, tugas kami sebenarnya sudah selesai,” imbuh Sri.
Penjabat Kepala Desa Landoh, Akbar Aji mengungkapkan bantuan semacam ini sudah lama dinantikan masyarakat. Setidaknya akan mampu meringankan beban para korban.
Ia menyampaikan terima kasih atas upaya dari Pemkab Rembang.
“Bencana ini kali pertama terjadi sejak tahun 2013, warga pindah secara mandiri. Ada yang beli tanah, ada pula yang menempati tanah pribadi di titik lain,” bebernya.
Tidak layak Ditempati
Sementara itu, Asisten I Sekda Rembang Bidang Pemerintahan Dan Kesra, Agus Salim menyatakan Pemkab akan menangani tanah gerak di Dusun Kedunglowo dengan pengurukan, pemadatan dan membangun talud penahan.
“Sesuai laporan yang kami terima, perkiraan bulan Juni nanti. Sudah masuk LPSE untuk tender lelang,” terangnya.
Agus Salim menambahkan setelah kelak selesai ditata, sebaiknya bekas lokasi bencana jangan ditempati lagi untuk hunian rumah.
“Ini juga sesuai dengan rekomendasi provinsi Jawa Tengah. Soalnya mempertimbangkan keamanan dan keselamatan warga,” tandas Agus.
Perhatian kepada warga Kedunglowo Desa Landoh ini sekaligus membantah spekulasi, mereka terkesan seperti dianaktirikan, jika dibandingkan dengan penanganan korban bencana tanah gerak di Dusun Grajen Desa Sumberjo Rembang.
“Saat itu sempat saya dengar di Kedunglowo ini seperti dianaktirikan, mak deg gitu rasanya. Tapi dengan kehadiran kita hari ini dan bantuan yang telah disalurkan menjadi bukti bahwa kita memperlakukan sama,” timpal Sri Jarwati. (Musyafa Musa).

