Pemuda Dipukuli Beramai-Ramai, Begini Penjelasan Kapolsek Lasem
Kondisi TKP saat seorang pemuda dipukuli, Minggu dini hari. (tangkapan layar video amatir warga).
Kondisi TKP saat seorang pemuda dipukuli, Minggu dini hari. (tangkapan layar video amatir warga).

Lasem – Gesekan antar warga terjadi di jalan raya antara Lasem – Pancur, sekitar Perempatan Jago sebelah selatan Masjid Jami’ Lasem, Minggu (07 April 2024) sekira pukul 03.00 dini hari.

Dari video yang beredar, tampak seorang pria membonceng sepeda motor, ditarik dan dipukuli oleh sekelompok pemuda. Pengendara sepeda motor juga ikut menjadi sasaran.

Ia kemudian tancap gas. Sedangkan pria yang membonceng, menyusul berlari dari belakang, sambil menghindari amukan massa yang masih terus mengejar.

Kapolsek Lasem, AKP Arif Kristiawan menjelaskan dari hasil pengumpulan bahan keterangan di TKP, awalnya ada rombongan pemuda di Lasem membangunkan sahur dengan memakai sound pengeras suara.

Sedangkan pemuda dari Sluke yang akan melintas, berulang kali membunyikan klakson sepeda motor, ketika kondisi jalan sedang ramai. Hal itu diduga menjadi pemicu gesekan.

“Karena jalannya penuh mungkin, yang lewat klakson-klakson, memicu ketersinggungan atau bagaimana, akhirnya terjadi gesekan,” tuturnya.

Saat polisi tiba, sebagian warga sudah bubar. Sedangkan warga lain yang masih bergerombol, diminta untuk pulang.

“Begitu terjadi gesekan, langsung lari, kemudian kita sampai sana yang masih bergerombol, kita bubarkan dan dihimbau segera pulang,” kata Kapolsek.

AKP Arif Kristiawan menambahkan pasca kejadian tersebut, pihaknya langsung melapor ke Kapolres Rembang.

Khusus Kecamatan Lasem, nantinya akan ada strategi tersendiri untuk mengantisipasi kerawanan gesekan antar warga pada saat Takbir keliling.

“Ada petunjuk khusus untuk Lasem, terkait Takbir keliling. Kami juga sudah koordinasi dengan para Kades, supaya sama-sama menjaga kondusivitas wilayah,” tandasnya.

Kapolsek Lasem mengimbau semua pihak untuk sama-sama mengendalikan emosi. Jangan sampai momentum Hari Raya Idul Fitri yang identik dengan bermaaf-maafan dan suasana kedamaian, justru tercoreng oleh aksi kekerasan.

“Semoga peristiwa ini menjadi yang terakhir,” pungkas AKP Arif. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.