18 Anak Akhirnya “Lulus”, Program Sedekah Telur Ikut Memberikan Andil
Wakil Bupati Rembang, M. Hanies Cholil Barro’ menggelar rapat koordinasi, terkait penurunan anak stunting di Aula Bappeda, Senin (09/10).
Wakil Bupati Rembang, M. Hanies Cholil Barro’ menggelar rapat koordinasi, terkait penurunan anak stunting di Aula Bappeda, Senin (09/10).

Rembang – 18 anak di Kabupaten Rembang yang awalnya masuk kategori stunting, kini dipastikan sudah lulus atau terbebas dari ancaman stunting akibat kurang gizi.

Prapto Raharjo, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang menuturkan 18 anak itu tersebar di Kecamatan Lasem 7 anak, Kecamatan Gunem 7 anak dan Kecamatan Sulang 4 anak.

Lulusnya mereka diketahui setelah ada pantauan dan pemeriksaan rutin, ternyata tinggi maupun berat badan mengalami kenaikan cukup signifikan.

“Dengan kenaikan itu di data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), data yang didapat kader melalui Posyandu yang dilaksanakan setiap bulan. Mereka sudah tidak kekurangan gizi kronis yang merupakan penyebab dari permasalahan stunting,” terangnya.

Prapto menyebut keberhasilan ini karena ditopang sejumlah program, seperti Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat), Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang diterapkan Puskesmas bagi anak- anak stunting secara gratis dan inovasi Telponi (Temokno Laporno dan Openi) untuk stunting. Termasuk program Sedekah Telur, juga turut memberikan andil.

“Dari dana desa juga ada PMT anak- anak stunting, kemudian didukung juga oleh gerakan sedekah telur, dari program- program ini sangat membantu untuk pengentasan stunting, semuanya jalan,” imbuh Prapto.

Sementara itu Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’ menjelaskan pihaknya sudah mengevaluasi gerakan Sedekah Telur, setelah berjalan empat kali.

Ia membeberkan 2 ribu lebih anak stunting mendapatkan bantuan 14 telur setiap hari Jumat (seminggu sekali). 14 telur tersebut bisa dikonsumsi oleh anak stunting 2 butir per hari.

Wakil Bupati yang biasa dipanggil Gus Hanies ini menambahkan, perolehan telur setiap Minggunya naik turun, karena bersifat sukarela.

Maka Pemkab melakukan sistem tambal sulam, yakni bagi kecamatan yang telurnya berlebih, disalurkan kepada kecamatan yang masih kurang, agar distribusi ke penerima merata. Tapi secara umum, sedekah telur dari aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Rembang sudah cukup.

“Sistemnya tambal sulam, di wilayah lain yang kelebihan telur kita distribusikan ke wilayah yang kurang,” kata Gus Hanies.

Gus Hanies mengakui sebenarnya kalangan masyarakat di luar ASN juga ada yang ingin ikut kegiatan Sedekah Telur. Namun sejauh ini belum dijalankan, karena perlu persiapan lebih matang. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.