Sosok Ini Yang Pecahkan Rekor, Kirim Tembakau Terbanyak
Marjuki, petani tembakau di Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber di lahan dan saat setor hasil panen.
Marjuki, petani tembakau di Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber di lahan dan saat setor hasil panen.

Sumber – Siapa sosok petani tembakau di Kabupaten Rembang yang memecahkan rekor, sebagai petani pengirim hasil panen tembakau terbanyak ke gudang perusahaan mitra PT Sadana Arif Nusa di Jalan Rembang – Blora.

Nah..Marjuki, petani tembakau di Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber salah satunya. Pria berusia 46 tahun ini mengaku menggarap lahan tembakau seluas 8 hektar.

“Lahan saya sendiri cuma 2 hektar, yang lain 6 hektar lahan sewaan mas,” tuturnya, Selasa (10/10).

Tahun ini kebetulan petani kemitraan mendapatkan keleluasaan untuk menanam tembakau, sehingga ia sangat bersemangat menambah luasan. Apalagi ditopang kondisi cuaca yang mendukung, sehingga hasil panen pun bagus.

Di musim ini, dari awal panen sampai bulan Oktober, total dirinya sudah mengirimkan 285 bal tembakau, bobotnya sekira 14 Ton.

“Bukan kulakan ya, tapi ini hasil panen dari lahan penanaman sendiri, alhamdulillah segitu. Yang saya tahu, kebanyakan petani kirim 50 bal, hampir 100 bal jarang,” imbuh Marjuki.

Saat ditanya berapa nilai nominal uang yang diterima, Marjuki enggan mengungkapkan, karena alasan kurang etis.

“Ndak enak mas, kurang etis lah. Petani tembakau sudah tahu sendiri, tiap bal tembakau rata-rata meraup penghasilan Rp 2 Jutaan,” ujarnya sambil tertawa.

Perhitungannya, dalam 1 hektar kalau hasil panen bagus, petani dapat memperoleh penghasilan kotor Rp 100 Juta. Ditaksir 30 % nya untuk menopang biaya pengeluaran, sehingga penghasilan bersih mencapai Rp 70 Juta per hektar.

“Tapi kita akui tahun 2022 kemarin terpuruk karena cuaca, tahun ini bagus. Dari tembakau pula, kondisi perekonomian petani semakin meningkat. Hal itu bisa dilihat dari Gunem, Sulang, Sumber dan sekitarnya,” beber Marjuki.

Marjuki mengakui anggapan sebagian kalangan yang merasa menanam tembakau ribet, namun menurutnya hal itu sebanding dengan penghasilan. Bahkan belum ada tanaman pertanian lain di musim kemarau, yang hasilnya mampu mengalahkan tembakau.

Ia menggambarkan proses mulai dari pembedengan bibit, penanaman, pengairan, pemupukan, perawatan hama ulat yang tahun ini butuh perhatian ekstra, kemudian pemanenan, perajangan, penjemuran, pengemasan hingga setor ke gudang.

“Saya sendiri melibatkan sekira 25 orang tenaga kerja, dari tetangga kanan kiri sendiri,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan