Uang Untuk Pembangunan Masjid Hilang, Diduga Ulah Anak Jalanan
Sekelompok anak jalanan mendapat pengarahan dari Satpol PP. (Dok. Satpol PP).
Sekelompok anak jalanan mendapat pengarahan dari Satpol PP. (gambar atas) kotak amal tempat menyimpan uang sumbangan pembangunan masjid Badruttamam, Desa Pandangan Kulon usai dicuri.

Kragan – Keberadaan anak jalanan (anjal) kerap kali menimbulkan keresahan ditengah masyarakat. Kebanyakan orang khawatir jika mereka melakukan hal-hal yang dapat mengganggu ketertiban umum.

Belum lama ini masyarakat Desa Pandangan Kulon, Kecamatan Kragan dibuat resah akibat hilangnya uang penggalangan dana untuk pembangunan masjid Badruttamam Desa setempat.

Abdul Hakim, salah satu warga sekitar menjelaskan kegiatan penggalangan dana pembangunan masjid tersebut sudah berjalan sekira 1 tahun. Per hari rata-rata pendapatannya kurang lebih Rp 1 juta.

“Penggalangan dana memang dilakukan dipinggir jalan pantura. Setiap hari biasanya ada 6 orang yang bertugas,” terangnya.

Kejadian hilangnya uang sumbangan pembangunan masjid terjadi pada Jum’at (28/7). Kala itu petugas tengah istirahat jelang waktu shalat Jum’at. Uang yang terkumpul lantas dimasukan kedalam kotak amal, kemudian ditinggal didalam sebuah gubuk dan dikunci.

Namun pada saat petugas kembali, gubuk dan kotak amal sudah dalam kondisi terbuka dan uang hasil penggalangan dana pun raib. Diduga uang tersebut diambil oleh kelompok anjal. Hal itu dikuatkan dengan keterangan saksi disekitar lokasi, yang sempat melihat gerombolan anjal duduk-duduk digubuk tersebut.

“Pas petugas kembali itu kondisi gubuk kuncinya udah rusak, kotak amal udah kebuka dan uangnya hilang. Kata salah satu pemilik warung didekat lokasi sih sempat liat gerombolan anak jalanan duduk disitu,” imbuh Hakim.

Dihubungi terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Penindakan Satpol PP Rembang, Karnen mengatakan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) no 2 tahun 2019 tentang ketertiban umum, pada bagian 2 soal tertib sosial pasal 12 ayat 1 huruf a disebutkan, setiap orang dan atau badan dilarang beraktifitas sebagai gelandangan, anak jalanan, anak punk, pengemis, pengamen, pedagang asongan dan atau pengelap mobil di jalan, rambu lalu lintas serta tempat umum.

“Kalau mengacu perda memang keberadaan anjal atau pengamen di traffic light itu nggak boleh mas. Jadi kita rutin melakukan razia,” katanya.

Apabila masyarakat menemui adanya aktifitas anjal maupun pengemis yang dianggap mengganggu ketertiban umum, dihimbau untuk segera melapor ke petugas Satpol PP untuk ditindak lanjuti.

“Kalau ada gangguan ketertiban umum silahkan lapor ke kami. Nanti akan kami tindak lanjuti,” pungkasnya. (Wahyu Adhi).

News Reporter

Tinggalkan Balasan