
Rembang – Sosok pria yang satu ini tidak pernah menyangka akan menjadi Pendeta di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Rembang, sebuah Gereja yang berada di pinggir Jl. Dr. Wahidin Rembang. Namun seiring waktu berjalan, ia justru semakin kerasan.
Yah..begitulah sekelumit kisah Pendeta Albert Aresto Pandiangan. Lama menjadi Pendeta di Ibu Kota Jakarta, ia kemudian ditugaskan ke Rembang, sebuah kota kecil di ujung timur Jawa Tengah. Tahun 2022 ini, sudah genap 7 tahun menjadi Pendeta GKI Rembang.
Albert mengaku semula tidak pernah menyangka. Bahkan pada awalnya belum tahu di mana Rembang berada.
“Saya belum tahu Rembang ada di mana, setelah saya ditugaskan ke Rembang, baru tahu Rembang ternyata bagian dari Jawa Tengah dan berbatasan dengan Jawa Timur. Pendeta GKI Rembang sebelumnya, pindah ke Salatiga, “ tuturnya, Kamis (23/12).
Ia tinggal di kediaman belakang Gereja, bersama isteri dan kedua orang anaknya. Keluarganya merasa sangat nyaman berada di Rembang. Ada sejumlah faktor yang paling terasa, yaitu pantai, kuliner khas pantai dan masyarakatnya yang ramah, masih kental rasa kekeluargaan.
“Hubungan saya dengan umat terasa seperti tidak ada sekat. Kami sudah seperti keluarga, saling memperhatikan, saling mengasihi dan membantu. Tapi secara umum memang khas masyarakat Jawa Tengah, umumnya ramah, guyup, “ imbuh Albert.
Hal itu menurutnya selaras dengan pesan Natal tahun ini. Masyarakat boleh merasakan suka cita, kebahagiaan, dengan tetap saling mengasihi sebagai sesama manusia.
“Kita semua saling menjaga keamanan, kedamaian dan menjaga keselamatan kita bersama, “ tandasnya.
Ditanya tentang rangkaian kegiatan merayakan Natal, Pendeta Albert memperinci pada hari Sabtu (24/12) pukul 16.30 Wib berlangsung kebaktian malam Natal, kemudian hari Minggu (25/12) pukul 09.00 Wib digelar perayaan Natal.
“Untuk semua usia, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa hingga lanjut usia. Pada perayaan Minggu pagi, ada nyanyian, tarian, musik dan juga drama, “ kata Albert.
Momen perayaan Natal juga waktu spesial berkumpulnya keluarga. Termasuk yang ada di luar kota, pulang ke kampung halaman. Namun ia bersama keluarganya tetap memilih berada di Rembang, karena padatnya rangkaian acara Natal.
“Biasanya kalau mau pulang ke Jakarta, pas libur Lebaran atau ketika libur sekolah di bulan Juli. Natal seperti ini, nggak akan bisa ditinggal mas, jadi sama keluarga di sana, berbagi kabar melalui telefon saja, “ pungkasnya tersenyum. (Musyafa Musa).

