Kasus Di Pamotan : Usai Setor 405 Juta, Korban Dicekoki Minum Kecubung Dan Obat Tidur
Dua tersangka (kaos hijau) memperagakan adegan saat membohongi korban. (Foto atas) Polisi mengamankan barang bukti.
Dua tersangka (kaos hijau) memperagakan adegan saat membohongi korban. (Foto atas) Polisi mengamankan barang bukti.

Pamotan – Berkedok bisa mengangkat harta karun sebesar Rp 600 Miliar, komplotan penipu beraksi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Dalam kasus ini, dua orang tersangka dibekuk polisi, sedangkan 3 orang pelaku lainnya masih buron.

Awalnya ada 5 orang tersangka pelaku, masing-masing Akhmad Anis alias Gus Ali (41 tahun) warga Mijen Kota Semarang, M. Rashif Fernanda (24 tahun) warga Kendal, Darto warga Pati, Angga warga Kendal dan Samsul warga Lamongan, Jawa Timur.

Mereka yang merupakan satu komplotan, memiliki peran berbeda dan saling bekerja sama.

Modusnya, berdalih bisa mengangkat harta karun Rp 600 Miliar. Namun syaratnya korban harus membayar uang zakat sebesar 10 % dari total uang yang diinginkan.

Mendapatkan penawaran semacam itu, ada dua warga Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Witono dan Abdul Chak yang tertarik. Witono menyiapkan uang Rp 255 Juta, sedangkan Abdul Chak Rp 150 Juta, sehingga totalnya mencapai Rp 405 Juta.

Kemudian ritual pengangkatan harta karun dilakukan di rumah Witono di pinggir jalan raya Desa Pamotan, pada akhir bulan September 2022 lalu. Rumah itu sebelumnya cukup lama tidak ditempati alias kosong.

Kawanan tersangka pelaku ternyata sudah menyiapkan uang mainan pecahan Rp 100 Ribu dan kotak-kotak kosong menyerupai tumpukan uang di dalam salah satu kamar.

Setelah korban menyerahkan uang asli 405 Juta, pelaku bersama korban menggelar ritual penarikan harta karun. Kali pertama, pelaku pura-pura menunjukkan uang asli, supaya korban merasa percaya.

Saat ritual berlangsung, Pelaku juga memberikan minuman berupa campuran kecubung yang sudah dihaluskan, obat tidur dan air cucian beras atau Tajin.

Korban akhirnya jatuh pingsan. Selanjutnya tersangka pelaku membawa kabur uang milik korban, untuk dibagi-bagi.

Seorang tersangka, Akhmad Anis alias Gus Ali yang bertugas sebagai penarik harta karun mengaku menerima bagian uang paling banyak, lebih dari Rp 233 Juta. Sebagian besar uang hasil kejahatan, ia gunakan untuk membayar hutang.

“Yang merancang penipuan ini pak Darto. Saya kenal sama dia belum sampai 1 tahun. Ia kebetulan juga punya hutang sama saya. Saya sudah diajak ke Jakarta, kemana-mana nggak ada hasil. Termasuk saya jadi Gus Ali yang bisa mengangkat harta karun, ya arahan dari dia (Darto), “ terangnya.

Pada keesokan harinya, korban mulai sadarkan diri dan sempat menjebol pintu kamar yang terkunci dari luar. Setelah itu, melaporkan peristiwa tersebut kepada aparat kepolisian.

Salah satu korban, Abdul Chak membenarkan hingga saat ini pengaruh cairan minuman yang diberikan pelaku masih terasa dampaknya. Ia berharap polisi mengusut tuntas kasus ini, sekaligus menjerat hukuman setimpal bagi pelaku.

“Nggak hanya kerugian materi, tapi nyawa saya seperti dipermainkan, “ kata Abdul.

Kapolres Rembang, AKBP Dandy Ario Yustiawan menjelaskan pihaknya menangkap tersangka pelaku Akhmad Anis di Semarang dan Rashif Fernanda, sedangkan 3 pelaku lain masih dalam pengejaran.

“Untuk Rashid Fernanda hanya diajak saja oleh pelaku lain. Ia berperan seperti layaknya santri yang mendampingi Gus Ali, “ kata Kapolres.

Kapolres menambahkan dalam kasus ini pihaknya mengamankan barang bukti 1 unit mobil untuk sarana beraksi, 1 unit motor Kawasaki Ninja yang dibeli dari hasil kejahatan, sejumlah pakaian untuk kegiatan ritual, uang mainan dan uang hasil penipuan yang masih tersisa Rp 56.500.000.

Tersangka dijerat pasal berlapis. Pertama, pencurian dengan kekerasan (Curas), dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara dan pasal tindak pidana penipuan, dengan ancaman 4 tahun penjara.

Polisi juga mengembangkan kasus tersebut, guna mengetahui kemungkinan terjadi di tempat lain. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *