Dampak PMK Terasa Pada Jumlah Hewan Qurban, Bupati : “Jangan Sampai Mereka Putus Asa…”
Seorang warga di Kabupaten Rembang memberikan pakan ke ternak sapi.
Seorang warga di Kabupaten Rembang memberikan pakan ke ternak sapi.

Rembang – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) diharapkan tidak sampai membuat kalangan petani/peternak putus asa. Jika hal itu terjadi, justru kondisinya akan semakin parah.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyampaikan masalah tersebut, guna menyikapi penyebaran PMK di wilayahnya. Apalagi saat ini, petani kesulitan menjual ternak sapi mereka.

Meski terlihat tidak berbahaya bagi kesehatan manusia, namun dampak PMK sudah mengganggu sosial ekonomi, utamanya di pelosok pedesaan. Maka pemerintah bersama masyarakat harus bergerak cepat, sehingga wabah PMK tidak semakin meluas.

“Kasihan petani kita, jangan sampai petani putus asa. Kalau putus asa, malah akan parah. Maka harus kita tangani serius ini, “ ujarnya.

Bupati mencontohkan perayaan Idul Adha tahun 2022 ini, jumlah ternak yang disembelih menurun tajam.

Ternak sapi, kurang dari 1.000 ekor, padahal tahun lalu melampaui angka 1.000. Sedangkan kambing 3 ribu ekor lebih, berbeda dengan tahun lalu yang menembus 4.600 an ekor.

“Kemarin saya evaluasi datanya, memang agak jauh dibandingkan tahun lalu, semarak idul qurbannya. Saya sendiri nggak pamer ini, saya nyembelih 4 ekor sapi. Dulu beli Rp 10 Juta, tak ingoni setahun, sudah layak disembelih, “ terang Hafidz.

Menurut Hafidz, populasi ternak sapi di Kabupaten Rembang 147 Ribu ekor. Tak heran jika angka PMK di Kabupaten Rembang juga sangat tinggi, bahkan sempat menduduki ranking 2 se-Jawa Tengah.

Jumlah sapi yang terpapar PMK di Kabupaten Rembang per hari Selasa (12/07) 5.200 an ekor, sedangkan tingkat kesembuhan mencapai 2.400 an atau kisaran 46 %. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan