Dua Sepeda Unik Menyedot Perhatian, Salah Satunya Sempat Ditawar Harga Tinggi
Sepeda tumpuk dan sepeda kayu, mewarnai kegiatan sepeda santai yang digelar Polres Rembang, hari Minggu (19/06).
Sepeda tumpuk dan sepeda kayu (foto atas), mewarnai kegiatan sepeda santai yang digelar Polres Rembang, hari Minggu (19/06).

Rembang – Di tengah-tengah kegiatan sepeda santai dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-76 di Rembang, Jawa Tengah, ada sejumlah sepeda yang paling menyedot perhatian, karena keunikan dan tentu saja berbeda dibandingkan sepeda pada umumnya.

Salah satunya sepeda berbahan kayu jati, milik Kurniawan Edi Pamungkas, warga Kelurahan Sidowayah Rembang. Pria berusia 27 tahun ini mengaku sudah memiliki sepeda kayu sejak sekolah SMP era tahun 2006 silam.

Sepeda tersebut dipesan dari seorang pengrajin di perbatasan Sulang – Sumber, kala itu seharga Rp 2 Jutaan. Mulai dari stang, lampu, kemudian selebor, rangka sepeda, pedal, sadel hingga boncengan, semua terbuat dari kayu. Hanya ban, ruji, gir dan rantai yang tidak terbuat dari kayu.

Sampai sekarang Kurniawan tidak merasakan kendala berarti, selama memakai sepeda kayu. Meski dipakai jarak jauh pun, menurutnya tak masalah.

“Kadang kala saja muncul bunyi di bagian gir nya, kumat-kumatan sich, “ ungkapnya.

Kurniawan menambahkan sepeda kayunya pernah ditawar oleh seseorang seharga Rp 10 Juta atau setara dengan harga sepeda motor. Namun ia enggan melepas, karena termasuk barang unik dan kenang-kenangan pemberian ayahnya.

“Istilahnya kenang-kenangan dari orang tua, jadi ya tetap saya pertahankan, “ imbuh Kurniawan.

Selain sepeda kayu, sepeda unik lainnya milik Rizki Nur Solihin, warga Dusun Bangker Desa Sendangagung Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang. Bentuknya sepeda tumpuk, sehingga jauh lebih tinggi dan ketika melaju di jalan raya, terlihat sangat mencolok dibandingkan sepeda lain.

Rizki, pemuda berusia 22 tahun ini awalnya terinsipirasi oleh fenomena sepeda tumpuk dari rekannya di luar daerah. Karena ia tertantang dengan hal-hal ekstrim, Rizki kemudian merangkai sepeda tumpuk dan menghabiskan biaya Rp 700 Ribuan.

Pada awal-awal pemakaian, Rizki pernah terjatuh. Hampir saja kakiknya patah.

“Jadi memang cara naik dan turunnya berbeda. Harus ekstra hati-hati. Di kampung saya ada 2 sepeda model begini, satunya punya temen, “ ungkapnya.

Sepeda santai gratis yang mengambil start dan finish di Alun-Alun Rembang ini tak sekedar untuk ajang olahraga dan menampilkan keunikan. Tapi juga sarana silaturahmi, setelah dua tahun dilanda pandemi.

Dengan hadiah utama 4 unit sepeda motor, tak mengherankan jika 8 ribuan peserta dari Jawa Tengah maupun Jawa Timur, berbondong-bondong datang ke Rembang. Bahkan banyak pula yang rela menginap di Rembang, sehari sebelumnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan