Pesona Gamal, Akhirnya Mantap Dirikan Pabrik Biomassa Di Rembang. Lokasinya ??
Direktur Utama Perhutani, Wahyu Kuncoro mengecek tanaman gamal di area KPH Mantingan.
Direktur Utama Perhutani, Wahyu Kuncoro mengecek tanaman gamal di area KPH Mantingan.

Sulang – Perhutani menggencarkan budidaya tanaman gamal, sebagai bahan bakar alternatif pengganti batubara.

Bahkan pihak Perhutani memastikan lahan bekas tempat penimbunan kayu (TPK) Desa Landoh, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang akan didirikan pabrik biomassa, untuk mengolah tanaman gamal.

Direktur Utama Perhutani, Wahyu Kuncoro saat mengunjungi lokasi calon pabrik dan pusat tanaman gamal di Kabupaten Rembang, hari Kamis (06/01) mengatakan kandungan kalori tanaman gamal hampir sama seperti batubara, sehingga efektif menjadi energi baru terbarukan.

“Kami termasuk salah satu dari beberapa BUMN yang mendapatkan tugas memikirkan energi baru terbarukan, untuk mengurangi ketergantungan batubara yang dipakai pembangkit listrik PLN, “ tuturnya.

Saat mengecek hamparan tanaman gamal di wilayah Mantingan, Kecamatan Bulu, menurutnya cukup bagus. Pada usia 3 tahun, sudah bisa panen untuk diolah.

“Tinggal kita hitung berapa produktivitasnya per hektar berapa, “ imbuh Wahyu.

Soal posisi pabrik, bisa dekat dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau didekatkan dengan area tanaman gamal. Titik bekas TPK Landoh untuk pabrik, dinilai sudah tepat, karena berada di tengah-tengah antara PLTU dengan lokasi penanaman. Apalagi aksesnya juga berdekatan jalan nasional, Rembang – Blora.

Wahyu menambahkan pabrik biomassa akan dibangun tahun 2022 ini. Jika melihat kesiapan tanaman, ia menargetkan pabrik sudah siap beroperasi akhir tahun 2022.

Total luas lahan tanaman gamal yang dikembangkan Perhutani saat ini mencapai 27 ribu hektar.

“Sampai akhir tahun 2024, target kami 67 ribu hektar, “ terangnya.

Ia memastikan tanaman gamal bukan sebagai pengganti tanaman jati. Melainkan tanaman selingan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan.

“Jatinya yang muda-muda tetap tumbuh, di sela-selanya akan coba kita tanam beberapa tanaman sela. Pada intinya untuk meningkatkan produktivitas, “ tandas Wahyu.

Sementara itu, Administratur KPH Mantingan, Marsaid membeberkan pengembangan tanaman gamal di wilayahnya berlangsung sejak tahun 2019 lalu. Jika ditotal sampai sekarang, luasnya sudah 2.500 hektar.

“Rinciannya 1.814 hektar tahun 2019, kemudian 375 hektar tahun 2020 dan di tahun 2021 ada 311 hektar, “ papar Marsaid. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *