Keamanan Kapal Menuai Sorotan, Pihak Pelabuhan Sebut Dana Rp 100 M
Kapal nelayan disandarkan di Pelabuhan Tasikagung Rembang.
Kapal nelayan disandarkan di Pelabuhan Tasikagung Rembang.

Rembang – Para nelayan menyoroti kondisi Pelabuhan Tasikagung Rembang, karena belum aman untuk sandaran kapal, terutama pada saat musim ombak besar.

Sekretaris Asosiasi Nelayan Dampo Awang Bangkit Rembang, Lastari Priyanto menjelaskan dari sisi keamanan dan kenyamanan masih kurang. Alasannya, ketika cuaca buruk, kapal masih sering rusak atau bahkan pecah, akibat saling berbenturan.

“Nuwun sewu kondisi pelabuhan juga harus diperhatikan. Ketika musim ombak barat maupun timur masih awur-awuran, sehingga banyak kapal rusak atau pecah, “ ungkapnya.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung, Yunus Mintarso menanggapi pihaknya sudah menyusun rencana utama (master plan) penataan Pelabuhan Tasikagung.

Salah satunya adalah pembangunan break water atau pemecah ombak di sebelah barat dan timur pelabuhan, untuk melindungi kapal-kapal nelayan yang ditambatkan di dermaga. Tahapan saat ini, masih menyelesaikan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan ditail desainnya sedang dikebut.

“Sehingga terdapat kolam pelabuhan untuk melindungi kapal. Amdal dan DED (ditail engineering desain-Red) sedang diselesaikan, “ papar Yunus.

Yunus menambahkan pembangunan break water Pelabuhan Tasikagung sudah masuk dalam Peraturan Presiden nomor 79 tahun 2019. Alokasi anggarannya mencapai Rp 100 Miliar. Kalau tahapan lancar, tahun 2022 sudah mulai dibangun. Ia memohon dukungan kepada DPRD dan Pemkab Rembang, agar proyek tersebut sesuai rencana.

“Karena ini demi kesejahteraan dan kemaslahatan nelayan di Kabupaten Rembang. Do’akan, insyaallah tahun 2022 pembangunannya dimulai, “ imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Rembang, Ridwan menganggap pembangunan pemecah ombak menjadi salah satu solusi, agar keamanan kapal lebih terjamin. Pihaknya siap mengawal, agar anggaran dari pusat benar-benar bisa cair.

“Kapal dempetan akeh sing pecah, nanti diharapkan nggak ada lagi. Soalnya kapal di tengah-tengah, seperti di dalam bak. Info sudah ada Rp 100 M, kita bantu ngawal kalau begitu, “ terang Ridwan.

Ridwan menambahkan idealnya memang di setiap dermaga pelabuhan, dilengkapi dengan break water. Ia mencontohkan seperti pelabuhan milik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sluke, kapal ketika membongkar muatan batubara lebih aman. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *