Bangga Menjadi Rembang, Jalan Terindah Itu Ada Di Tempat Kami
Jalur Pantura Jatisari – Sedangmulyo Kecamatan Sluke. (Foto atas) Pantura Bonang – Binangun Kecamatan Lasem.
Jalur Pantura Jatisari – Sedangmulyo Kecamatan Sluke. (Foto atas) Pantura Bonang – Binangun Kecamatan Lasem.

Rembang – Ada sebuah jalan antara Semarang – Surabaya, yang oleh sebagian kalangan dijuluki sebagai jalan terindah di jalur pantai utara (Pantura) Jawa, bahkan di Indonesia.

Yah..jalan penghubung antara Kabupaten Rembang, Jawa Tengah dengan Kabupaten Tuban, Jawa Timur itu, lokasi tepatnya membentang dari Lasem sampai Sluke, Kabupaten Rembang.

Di Desa Bonang – Binangun Kecamatan Lasem misalnya, pengguna jalan langsung disuguhi panorama keindahan pantai dan perbukitan Watu Layar, konon dulunya menjadi tempat favorit Sunan Bonang menyendiri, di sela-sela beliau menyebarkan agama Islam.

Ombak laut yang tenang dan deretan perahu maupun kapal nelayan, memiliki daya pikat bagi siapa saja yang meliriknya. Bahkan ketika penumpang bus melintas, mereka sering memendam hasrat untuk menikmati lebih lama pemandangan Pantai Bonang – Binangun.

Selain kuliner ikan bakar pinggir pantai, di lokasi ini juga menyimpan kekuatan indahnya sensasi matahari tenggelam atau sunset.

Pantai Bonang – Binangun tidak sendiri. Titik lain di jalur Pantura Rembang yang menyandang predikat jalan terindah terletak di Desa Jatisari Kecamatan Sluke ke timur sampai kawasan Pelabuhan Desa Sendangmulyo.

Kondisi jalan berkelak-kelok langsung berhimpitan dengan Laut Jawa, ditambah kawasan perbukitan di sisi selatan jalan, seakan-akan melambaikan tangan kepada mereka yang melintas untuk segera singgah.

Seniman sekaligus budayawan asal Sluke – Rembang, Abdul Chamim mengatakan ketertarikan pengguna jalan tampak dari banyaknya mobil yang kerap berhenti, hanya sekedar ingin berswa foto dengan latar belakang keindahan pantai. Apalagi ketika sore hari, menjelang matahari tenggelam.

“Kalau saya lihat, rata-rata kendaraan luar Kabupaten Rembang mas. Saya kira sulit menemukan jalan yang membelah antara pantai dan perbukitan seperti ini di daerah lain, “ tuturnya.

Chamim berharap Pemkab Rembang menangkap potensi tersebut, sebagai sesuatu yang layak dikembangkan. Kalau dikemas dengan perpaduan konsep wisata religi, wisata alam, rest area dan wisata kuliner, menurutnya akan memiliki daya tarik luar biasa.

“Mimpi besar ada gondola seperti di luar negeri jalan di atas laut, menghubungkan antar destinasi, tentu akan menjelma sebagai ikon untuk Rembang. Belum lagi ada resort pinggir pantai, menyajikan kuliner sea food ala Resto Bali, bukankah ini peluang yang menantang, “ imbuh Chamim.

Konsep menyulap Bonang, Binangun, Sluke, menurut Chamim sejatinya sudah lama dimunculkan oleh Bupati-Bupati Rembang terdahulu. Namun sayang, penataannya masih sepotong-sepotong alias belum berjalan secara berkelanjutan.

27 Juli Tahun 2021, Kabupaten Rembang merayakan hari jadinya ke-280. Meski masih situasi pandemi, momentum ini setidaknya bisa mengingatkan kembali untuk bangkit mewujudkan mimpi-mimpi yang tertunda.

“Ketika perputaran ekonomi menggeliat, basisnya tetap masyarakat yang mesti merasakan manfaat, “ tandasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *