Haul Mbah Sambu Lasem Ditengah Pandemi, Tak Meninggalkan Ciri Khas
Kegiatan khitan dalam rangka Haul Mbah Sambu di Lasem, Sabtu (24/07).
Kegiatan khitan dalam rangka Haul Mbah Sambu di Lasem, Sabtu (24/07).

Lasem – Haul Mbah Sambu yang terpusat di Masjid Jami’ Lasem tahun ini terasa berbeda, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Mbah Sambu yang memiliki nama lain Sayyid Abdurrahman merupakan salah satu penyebar agama Islam tersohor di Lasem.

Ketua Panitia Haul Mbah Sambu, Ahmad Hilmi mengatakan pada situasi normal, haul biasanya menyedot pengunjung dari berbagai daerah, dengan jumlah antara 10 – 15 ribu orang.

“Pusatnya ya di Masjid Jami’ Lasem sini, “ ungkapnya.

Sebelum pandemi, kegiatan khotmil Qur’an diikuti 200 orang lebih, berasal dari para hafidz/hafidzah Masjid-Masjid di sekitar Lasem.

“Setelah Subuh diadakan khotmil Qur’an, sedangkan sore hari setelah Ashar, baru puncaknya Haul Mbah Sambu, “ terang Hilmi.

Lantaran pandemi belum mereda, Hilmi menambahkan kegiatan Haul Mbah Sambu dipadatkan sepanjang hari Sabtu (24 Juli 2021) kemarin. Peserta Khotmil Qur’an hanya 10 orang.

Tapi pihaknya tidak meninggalkan ciri khas haul, yakni khitanan massal. Mengingat cukup banyak masyarakat yang menunggu anak-anaknya bisa ikut dikhitankan, bersamaan dengan Haul Mbah Sambu.

“Sudah kayak berharap, ibarat ngalap berkah. Soalnya khitanan sudah menjadi ciri khas haul setiap tahun, “ bebernya.

Namun khitanan kali ini tidak seperti sebelumnya yang dipusatkan di Masjid Jami’ Lasem. Peserta yang datang ke Masjid Jami’ hanya 1 – 2 anak, untuk khitan secara simbolis. Sedangkan puluhan peserta lain didatangi tukang sunat secara door to door atau langsung ke rumah masing-masing, supaya tidak menimbulkan kerumunan.

“Teknis pelaksanaan yang berubah, peserta yang sudah mendaftar, kita langsung jemput bola. Gratis, “ tandas pria warga Desa Soditan, Kecamatan Lasem ini.

Sekretaris Masjid Jami’ Lasem, Abdul Aziz menyatakan tradisi haul untuk menghormati tokoh-tokoh para masayikh Lasem, sehingga agama Islam semakin berkembang hingga saat ini.

“Pandemi bukan halangan untuk mengenang sejarah perjuangan beliau-beliau. Meski tak seramai sebelum pandemi, tapi esensi dan arti dari kegiatan tidak jauh berubah, “ kata Aziz yang juga anggota DPRD Jawa Tengah tersebut. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *