Menengok Perjuangan Warga Dusun Modo, Sakit Rasanya Ketika Mengenang Kabel Dicuri
Dusun Modo, Desa Jadi, Kecamatan Sumber.
Dusun Modo, Desa Jadi, Kecamatan Sumber.

Sumber – Dusun Modo, Desa Jadi, Kecamatan Sumber menjadi dusun dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kabupaten Rembang.

Konon nama Modo merupakan singkatan Limo Sudo atau artinya lima berkurang, sehingga muncul kepercayaan turun temurun bahwa dusun yang tak jauh dari Jalan Raya Rembang – Sumber ini, hanya akan dihuni maksimal 5 rumah. Lalu bagaimana kondisinya sekarang ?

Edi Mursito, seorang warga Dusun Modo, Desa Jadi mengakui mitos itu tergolong cukup kuat. Suatu ketika ada ulama yang datang menggelar pengajian di Mushola Dusun Modo. Ulama tersebut memberikan nama Mushola itu Mambah, singkatan dari Lima Tambah.

Solusi Keluhan Lambung

“Nama ulama itu Alm. Mbah Muzaqin Husein yang memberikan nama Mushola satu-satunya di Modo dengan nama Mambah, lima tambah, “ kenangnya.

Belakangan jumlah warga yang mendirikan rumah di Dusun Modo mulai bertambah. Saat ini di kampungnya terdapat 14 kepala keluarga, tetap menyandang predikat sebagai dusun terkecil di Kabupaten Rembang.

Warga pun masih belum bisa membentuk RT sendiri, sehingga harus bergabung dengan penduduk lain yang lokasinya saling berjauhan.

“Saat saya masuk ke sini pertama kali sudah ada 8 KK, sekarang menjadi 14 KK, “ imbuh Edi.

Karena jumlah penduduk sedikit dan terpisah agak jauh dari pusat desa, membuat warga Dusun Modo melewati perjuangan berat. Salah satunya fasilitas listrik.

Dulu mereka mengambil aliran listrik dari Desa Jadi, berjarak hampir 1 kilo meter, dengan menggunakan kabel seadanya. Tiap kali hujan deras dan angin kencang, sering tiang penyangga kabel roboh.

Belum lagi menghadapi beberapa kali pencurian kabel listrik, sehingga warga harus iuran membeli kabel baru lagi.

“Pelaku pencurinya ya tega bener gitu lho. Kabel cuma 1 untuk penerangan kami, kok ya tega dicuri, “ keluhnya.

Sempat ada bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari pemerintah. Namun sayangnya tidak berfungsi optimal, karena keterbatasan daya.

“Untuk lampu saja hanya 3 titik. Kita mau muter radio, lihat TV ya nggak bisa kalau pakai PLTS, “ bebernya.

Warga pun berupaya mengajukan ke PLN. Karena pemasangan jaringan memakan biaya cukup mahal, sedangkan jumlah calon pelanggan sedikit.

Solusinya, warga iuran Rp 3 Juta per KK, supaya jaringan listrik PLN bisa masuk ke dusun Modo. Akhirnya sekira tahun 2010, listrik PLN dapat dinikmati warga.

“Dulu untuk menyadarkan warga, saya sampai datangkan pak Kades ke sini. Soalnya kalau ada 1 KK saja nggak iuran Rp 3 Juta, ya listrik PLN nggak jadi. Maklum uang Rp 3 Juta waktu itu ya lumayan besar. Sekarang alhamdulilah, warga sudah enak pakai listrik. Soalnya mulai charge HP, masak nasi, serba pakai listrik, “ imbuhnya.

Nilai positifnya, kehidupan masyarakat Dusun Modo begitu tenang. Kerukunan terjalin baik, karena mereka memahami betul jumlah warga segelintir harus diimbangi dengan kekompakan.

Warga tiap sore rutin memasang uang jimpitan Rp 500. Per hari terkumpul Rp 7 ribu, kemudian ditampung untuk kegiatan dusun. Mulai pembuatan gapura masuk dusun, perbaikan saluran air atau ketika ada kegiatan mendadak lainnya.

“Kita paham nggak bisa menggantungkan bantuan dari desa, apalagi setelah ada pandemi corona, anggaran desa berat. Ya kita sedikit-sedikit kumpulkan dari uang jimpitan mas, “ tutur Edi.

Dusun Modo selama ini juga sempat terganggu adanya mitos pantangan masuk bagi aparat pemerintah, karena dipercaya akan ketiban sial jika mendatangi Dusun Modo.

Edi menganggap hal itu tidaklah benar, karena hanya akan menghambat dusun untuk bergerak maju.

Justru dirinya mendapatkan berkah diangkat sebagai pegawai negeri pada tahun 2013 lalu, ketika berdomisili di dusun tersebut.

“Banyak rekan-rekan saya pegawai negeri masuk sini juga nggak apa-apa. Kalau niatnya baik, insyaallah juga akan baik, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *