
Sluke – Tumpukan batu berukuran besar-besar yang ditumpahkan ke sebuah lahan di Dusun Jambu, Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang mengakibatkan akses jalan warga tertutup. Terutama 2 kepala keluarga mengalami dampak secara langsung. Hingga Jum’at siang (23 April 2021), kondisi semacam itu sudah terjadi sekira 1 bulan terakhir.
Lalu bagaimana ceritanya tumpukan batu di lokasi tersebut ? Kronologis singkatnya, ada lahan milik Warsiman. Kemudian tetangga belakang rumahnya, Tasmuri membeli sedikit lahan kepada Warsiman untuk keperluan membuat jalan di tahun 2015 silam seharga Rp 3 Juta.
Tasmuri menghabiskan biaya lumayan besar guna pengurukan lahan yang sebelumnya berupa semak belukar dan pepohonan menjadi rata. Setelah itu, ada sisa lahan di sebelah selatan jalan yang dijual oleh Tasmuri kepada Waryatun senilai Rp 6 Juta. Kini lahan tersebut didirikan rumah dan ditempati Mohammad Fajar Supriyatno, anaknya Waryatun.
Warsiman tidak terima, lantaran merasa masih memiliki hak atas tanah di sebelah selatan jalan. Ia beralasan kala itu hanya menjual untuk akses jalan, bukan yang lain.
Begitu memicu polemik, masalah dimediasi oleh pihak desa dan aparat Polsek Sluke. Terjadi kesepakatan, uang hasil penjualan tanah Rp 6 Juta oleh Tasmuri kepada Waryatun, dikembalikan ke Warsiman. Dengan catatan, Warsiman bersedia memberikan akses jalan selebar 1,5 Meter, memanjang ke timur.
Setelah ada kesepakatan, Warsiman justru mendatangkan batu-batu besar ditumpahkan ke lahan belakang rumahnya, hingga menutupi akses jalan menuju rumah Mohammad Fajar Supriyatno dan Tasmuri. Tidak hanya 2 KK itu yang kesulitan melintas, tetapi juga warga lain maupun pedagang keliling. Mereka akhirnya terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih sempit.
Khusus keluarga Mohammad Fajar Supriyatno yang paling terasa, karena tumpukan batu berada persis di depan pintu rumahnya. Motornya pun ditaruh di luar, tak bisa masuk ke dalam rumah. Untuk akses keluar masuk, mereka jalan kaki.
Fajar mengaku sudah mengadukan masalah ini kepada pihak desa. Tapi sampai Jum’at siang (23 April 2021) belum ada penanganan. Ia berharap akses jalan dibuka kembali.
“Ya terganggu mas, semoga bisa dilewati lagi. Nggak ada salahnya diukur ulang, biar semua jelas, “ tuturnya singkat.
Saya langsung menuju ke kediaman Warsiman, selaku pemilik tanah dan pihak yang menaruh tumpukan batu. Ia beralasan sejak kali pertama batu ditumpahkan dari truk, dirinya sudah mencari pekerja untuk menata akses jalan selebar 1,5 Meter. Tapi pekerja tidak berani, karena alasan takut dianggap berpihak.
Ia lebih memilih batu untuk tapal batas, daripada memasang pagar tanaman. Jika ada pekerja yang siap, Warsiman berjanji akan membuka akses jalan.
“Kalau saya buat pagar pohon hidup kan saru, soalnya di belakang ada rumah. Saya sudah cari pekerja untuk menata batu, orangnya nggak mau ngerjakan, saya upahi. Katanya do takut, “ ujar Warsiman menggunakan bahasa Jawa.
Seorang perangkat Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, Fatah Yasin mengimbau supaya kesepakatan membuatkan jalan selebar 1,5 Meter segera dikerjakan, agar tidak mengganggu kenyamanan warga.
“Kita sudah mediasi, sudah ada kesepakatan. Harapan kami ya itu segera dilaksanakan, “ tuturnya.
Yasin menambahkan pemerintah desa setempat akan mengupayakan solusi terbaik. Kuncinya antar warga hidup rukun, sedangkan akses jalan bisa dibuka. (Musyafa Musa).

