“Yang Paling Susah Kalau Menanggung Angsuran Kendaraan…”
Musisi dan penyanyi yang tergabung dalam Pas Dendang mengamen di lampu pengatur lalu lintas depan Kantor Bupati Rembang, Kamis (18/06).
Musisi dan penyanyi yang tergabung dalam Pas Dendang mengamen di lampu pengatur lalu lintas depan Kantor Bupati Rembang, Kamis (18/06).

Rembang – Beragam cara dilakukan oleh musisi dan penyanyi di Kabupaten Rembang, guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mereka bertambah pusing, karena sebagian juga dihadapkan pada tanggungan angsuran kendaraan.

Ketua Umum Perkumpulan Seniman Dan Pekerja Dangdut Rembang (Pasdendang), Edy Mulyono menjelaskan sejak pandemi Covid-19 melanda, sebagian anggotanya mencari pekerjaan sampingan, sekedar untuk menyambung hidup sehari-hari.

“Dibilang ya turun drastis ekonominya. Yang punya usaha dan ketrampilan, mungkin nggak bingung. Tapi kalau yang nggak punya, ya susah. Apalagi jika suami musisi, isteri sebagai penyanyi, tambah ngenes lagi mas, “ ungkapnya.

Edy mengisahkan karena rata-rata tabungan sudah habis, sehingga banyak pula yang mulai menggadaikan atau menjual barang. Hal itu wajar, karena sepanjang tahun 2020, seniman dan pekerja dangdut harus menghadapi kebijakan penghentian pentas keramaian, sehingga tidak mendapatkan penghasilan.

“Motor dijual, BPKB kendaraan digadaikan, mau bagaimana lagi, kondisinya memang seperti ini. Kalau dihitung dengan larangan pentas pada malam hari, totalnya ya sudah 5 bulan. Tapi yang job terhenti total sejak bulan Maret lalu,  “ imbuh Edi.

Pria warga Perumahan Sumber Mukti Indah Sumberejo, Rembang ini mengakui banyak musisi maupun penyanyi menanggung angsuran kendaraan, seperti sepeda motor dan mobil. Semula mereka mengandalkan bayaran job pentas, sama sekali tidak mengira akan ada pandemi Covid-19.

“Rata-rata memang punya cicilan. Kita meminta kelonggaran dari pihak leasing kendaraan, untuk bisa distop dulu. Besok kalau sudah normal lagi, siap membayar angsuran, “ bebernya.

Ia mengibaratkan bulan Syawal ini sebenarnya masa panen job pentas, karena dianggap sebagai waktu yang tepat untuk orang punya kerja. Kemudian disambung bulan Agustus mendatang.

“Kita ngitungnya pakai bulan Jawa ya. Sasi besar atau bulan Agustus nanti, lalu bakdamulut, atau habis masa panen, biasanya juga ramai orang punya kerja, “ pungkas Edy.

Para musisi, penyanyi maupun pekerja dangdut di Kabupaten Rembang kini sebatas menunggu kebijakan dari Pemerintah Kabupaten setempat. Bupati Rembang, Abdul Hafidz sudah berjanji awal bulan Juli nanti akan mengeluarkan regulasi aturan di bidang seni.

“Insyaallah awal bulan Juli akan kita mulai, tapi tetap dengan standar protokol kesehatan, “ terang Hafidz, Kamis (18/06). (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *