Gandrung Helm Jadul, Tak Dijual Meski Banyak Yang Menawar
Eko Hadi Wibowo, warga Desa Kebonagung Kecamatan Sulang menunjukkan dua helm Jadul miliknya yang pernah dipinjam untuk syuting film.
Eko Hadi Wibowo, warga Desa Kebonagung Kecamatan Sulang menunjukkan dua helm Jadul miliknya yang pernah dipinjam untuk syuting film.

Sulang – Seorang warga Desa Kebonagung (Bencili-Red) Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang mempunyai hobi unik, yakni mengoleksi helm-helm jaman dulu (Jadul). Bahkan dari hobi langkanya tersebut, ia sempat dikira gila, karena sering mengumpulkan barang-barang bekas.

Yah..Eko Hadi Wibowo namanya. Pria berusia 30 tahun yang menjadi guru seni budaya di SMK N I Rembang ini mempunyai puluhan helm kuno era tahun ’80 – ’90 an dan saat ini dipajang di dalam rumah maupun gudangnya. Mulai helm jenis cakil, helm chip, moncong babi, helm robot maupun helm kuno keluaran Vigano dan DMI.

Eko mengaku kegemaran mengumpulkan helm tua bermula dari senangnya naik sepeda motor tua, selepas lulus SMA. Menurutnya, naik motor tua perlu diimbangi dengan properti helm Jadul, supaya tampak serasi. Sejak saat itu ia berburu helm tua ke tukang-tukang rosok, utamanya ketika mengikuti kegiatan touring di sejumlah daerah.

Helm ada yang dibeli seharga Rp 5.000 atau bahkan Rp 10.000 dapat 3. Tapi kini harganya bisa melambung tinggi. Untuk pasaran helm robot, bisa menembus Rp 500 ribu sampai Rp 1 Juta, karena sudah semakin langka.

“Dulu saya pernah nyari di Cilacap, kemudian Purwokerto pas ikut touring, kan media sosial belum seramai sekarang. Tapi setelah saya kerja di sekolah, paling ada yang ngasih info lewat WA maupun facebook. Kemarin saya sempat lihat ada yang jual helm robot Rp 1 Juta, jarang ada soalnya, “ kata Eko.

Dari sekian banyak helm, ada 2 helm yang ia miliki sempat dipinjam untuk syuting film di Rembang, beberapa waktu lalu. Semula akan dibeli, tapi ia menolak. Bahkan helm tuanya tersebut dipakai oleh aktor kenamaan, Reza Rahadian.

“Tim kreatifnya datang ke sini, sebenarnya mau dibeli, saya nggak mau. Nanti saya sulit nyarinya, lagian ini kenang-kenangan dari temen. Kalau temen saya main ke sini nanya, kan nggak enak juga, “ imbuhnya.

Bagi Eko, memakai helm tua seperti itu memiliki kepuasan tersendiri. Meski terkadang ada yang menganggapnya aneh, bahkan dikira gila. Ia justru memandangnya punya nilai seni. Seni mengenang tempo dulu yang sulit ternilai harganya.

“Kalau di desa, dibilang guru kok ngumpulke barang rosok. Kalau saya menganggapnya bukan rosok, tapi ini punya nilai seni. Padahal kalau di kota-kota besar, barang seperti ini banyak dicari. Tiap ikut touring, helm saya ditawar mahal atau diganti helm baru, nggak saya kasih, “ ungkapnya tersenyum.

Meski mempunyai cukup banyak, namun Eko berniat tak ingin menjual helm-helm kuno tersebut. Hanya sebatas ia pakai bergantian saat pergi, terutama kalau bersama komunitas Geng Trail Tua (GTT) Rembang, hunting ke destinasi-destinasi wisata yang jarang dikunjungi masyarakat.

Menurutnya, masih ada angan-angan terpendam yang belum terwujud sampai sekarang, yakni memiliki helm tua buatan Eropa tahun ’50 an. Selain karena harganya sangat mahal, juga susah mendapatkannya. Nah..apakah anda tertarik ingin mengoleksi helm tua seperti Eko Hadi Wibowo ? (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *