Warga Klaim Siap Pindah Pasar, Investor Ungkap Alasan Kenapa Tidak Membangun Kilang Gas Di Krikilan
Ari Gudadi dari PT. Super Energy menunjukkan gambar truk mengisi gas di depo kilang, saat sosialisasi di lantai IV Kantor Bupati Rembang, Senin (23/12).
Ari Gudadi dari PT. Super Energy menunjukkan gambar truk mengisi gas di depo kilang, saat sosialisasi di lantai IV Kantor Bupati Rembang, Senin (23/12).

Rembang – Sejumlah pihak dari Desa Krikilan Kecamatan Sumber tetap ngotot agar pembangunan kilang gas dibangun di Desa Krikilan. Bahkan ada perwakilan warga mengklaim siap memindah atau memundurkan lokasi Pasar Krikilan, jika dianggap keberadaan pasar menghambat lalu lalang truk pengangkut gas.

Dalam sosialisasi pemasangan pipa gas dan pembangunan kilang gas di lantai IV Kantor Bupati Rembang, Senin siang (23 Desember 2019), Ratmin, seorang warga Desa Krikilan mempertanyakan kenapa saat tim mencari tanah untuk membangun kilang gas, tidak berkoordinasi dengan Kepala Desa Krikilan.

Seandainya kilang gas berada di Desa Krikilan, ia optimis tidak akan muncul komplain. Menyangkut posisi Pasar Krikilan kalau dianggap mengganggu hilir mudik truk, Ratmin berpendapat bisa dimusyawarahkan dengan pemerintah desa, alternatifnya dimundurkan atau bahkan dipindah.

“Jadi kisruh ya kayak gini, misal dulu pak Bupati perintah pak Camat, pak Camat datang ke pak Kades. Apa masalahnya, lha wong pak Camat itu warga Desa Krikilan. Kan bisa tanya, ada nggak tanah dijual. Sekarang mau panen, malah di desa lain. Masalah jalan dan pasar bisa dimusyawarahkan. Pasar bisa dipindah atau mundur, karena lahan masih luas, “ kata Ratmin.

Ngarju, dari Karang Taruna Desa Krikilan Kecamatan Sumber tetap mendesak kilang gas dibangun di Desa Krikilan. Alasannya, demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi desa. Ia berharap pelaksana jangan memaksakan kehendak membangun kilang gas di Dusun Padas Desa Jatihadi Kecamatan Sumber.

“Titik temunya ini di mana, seolah-olah warga Desa Krikilan seperti diinjak-injak. Nggak ada amit nuwun sewu. Jangan hanya aku pokoke, seolah-olah pokoke di Jatihadi. Kalau dikembalikan warga berpendapat pokoke di Krikilan, jadi ya nggak salah pak. Monggo dirembug lagi, “ ucapnya.

Dalam kesempatan itu, perwakilan investor dari PT. Super Energy, Ari Gudadi menyampaikan alasan, kenapa kilang gas berada di Dusun Padas Desa Jatihadi. Dua faktor pokok yakni keamanan dan kesehatan.

Dari sisi keselamatan operasional, pihaknya membutuhkan lahan di pinggir jalan hampir 1 hektar, untuk memudahkan truk trailler pengangkut gas bisa melakukan manuver. Dalam sehari, setidaknya diperkirakan 30 unit truk masuk. Apabila kilang berada di Desa Krikilan, truk akan kesulitan. Lebih-lebih jalan antara Desa Krikilan dengan Desa Kedungtulup Kecamatan Sumber terdapat tanjakan curam, truk-truk besar dikhawatirkan tidak kuat menanjak. Selain itu, pihaknya mencari lokasi lahan yang agak jauh dari permukiman penduduk, untuk meminimalisir segala kemungkinan terburuk, selama operasional kilang gas.

Ari menambahkan tim sudah pernah melakukan survei lahan di Desa Krikilan, namun belum ada yang layak sesuai kajian operasional.

“Truk-truk kita kalau lewat sini (Krikilan-Red) kayak apa pak. Saya nggak kebayang, saya nggak mau suatu saat dikomplain di kemudian hari. Itu luar biasa. Safety seperti ini dilihat, semua sudah melewati kajian pak. Kalau ditanya kenapa mendadak, kami juga menunggu perjanjian jual beli gas (PJBG). Kalau nggak dibangun, alokasi gas ada batas waktu, takut lewat ini semua. Kita juga cepet-cepatan antara nunggu keputusan pemerintah, dengan persiapan beli tanah, ngebangun, “ terangnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang, Subhakti menyatakan jika pertimbangannya ingin menumbuhkan ekonomi di Desa Krikilan, sebenarnya ada solusi lain, meski kilang gas tidak berada di desa tersebut. Misalnya dari dana CSR Pertamina Hulu Energi, CSR investor dan dana bagi hasil dari Pemkab Rembang. Untuk penyerapan tenaga kerja, kepentingan warga Desa Krikilan tetap akan diakomodir.

“Sopir truk misalkan prioritas warga Desa Krikilan. Kan butuh sopir truk banyak, ada 50 an. Kalau ada warga Krikilan mau beli truk, disewakan ke investor. Harganya Rp 2 M per unit, kalau saya nggak kuat. Kalangan pemuda mau urunan, monggo. Meski kilang nggak di Desa Krikilan, saya rasa masih ada mekanisme lain yang bisa kita diskusikan, “ urai Sekda.

Sekda berharap jangan muncul provokasi-provokasi yang justru akan menghambat investasi. Apalagi masalah gas sudah menjadi kebutuhan nasional.

“Kalau dari aspek keuntungan, investor PT. Super Energy lebih untung mbangun deket Krikilan, karena pipa pendek. Tapi tadi disebutkan dari aspek keamanan, yen ono mbledhose, bocore, itu yang dikhawatirkan, “ pungkas Subhakti. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *