Tak Mengira Kembali Lagi, Kasat Lantas Teringat Masa Remajanya Yang Tomboi
Kasat Lantas Polres Rembang, AKP Sri Martini.
Kasat Lantas Polres Rembang, AKP Sri Martini.

Rembang – Rembang menjadi kota spesial bagi Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Rembang, AKP Sri Martini, yang tergolong merupakan pejabat baru. Tak banyak yang tahu, ternyata AKP Sri Martini menghabiskan masa sekolah SD sampai dengan SMA di Kota Rembang.

Sang ayah kebetulan asli Desa Kajar, Kecamatan Lasem. Kala itu ia mengikuti tempat tugas ayahnya sebagai Kapolsek Lasem, dan waktu kecil tinggal di asrama polisi, sebelah selatan Tugu Lilin.

AKP Sri Martini menceritakan bersekolah di SD Katholik, kemudian melanjutkan ke SMP N II Rembang dan SMA N II Rembang. Saat SMA, ia dikenal tomboi dan banyak berteman dengan anak laki-laki. Bahkan sangat jarang mengenakan rok, tetapi lebih senang memakai celana. Tapi dari SMA N II Rembang pula, mengantarkan dirinya masuk Polwan. Lulus tahun 1992, Sri diterima mendaftar polisi, kemudian berdinas pada tahun 1993.

“Saya masih ingat betul aktif di Saka Bhayangkara, ikut kelompok Rembang Bhayangkara Club (RBC). Dulunya kalau ada kegiatan ya di depan Satlantas sini, karena dulu kan jadi Mapolres Rembang ya. Saya juga masuk Paskibra, dan daftar polisi diterima. Alhamdulilah segala sesuatu di Rembang, dilancarkan, “ kenang Sri.

Wanita muallaf ini mengisahkan usai pendidikan, kali pertama berdinas di Mabes Polri selama 5 tahun. Setelah itu mengikuti suami yang juga anggota polisi berdinas di Solo, sejak tahun 1998. Sempat menduduki Kasubag Dalops Bagian Operasional Polres Sukoharjo, hingga akhirnya tanpa disangka kembali ke Rembang menjadi Kasat Lantas. Banyak rekan-rekannya semasa SMP dan SMA dulu ingin bertemu. Mereka juga ikut senang, Sri Martini yang oleh rekan-rekannya biasa dipanggil iik ini bisa menduduki kursi Kasat Lantas.

“Kebetulan saya juga masih menyesuaikan dengan situasi di Kabupaten Rembang. Pak Kapolres sekarang juga langsung tancap gas gigi 5, jadi saya juga harus mengikuti ritme beliau. Saya belum sempat temui temen-temen satu per satu, tapi kalau temen ke sini, ya langsung saya temui. Saya maupun mereka juga nggak mengira, bisa reunian lagi, “ bebernya tersenyum.

Ditanya tentang Rembang dulu dan sekarang, menurutnya belum banyak perbedaan. Hanya saja dari sisi jalur Pantura mengalami kepadatan volume kendaraan, sehingga menjadi bagian Satlantas untuk melakukan upaya-upaya pelayanan maksimal.

“Jadi banyak sekolah berada di pinggir jalur Pantura. Kendaraan-kendaraan besar semakin banyak, padahal panjang jalan tidak bertambah. Ini menjadi tantangan kita. Semoga kedepan ada solusi jalan lingkar, sehingga dapat memecah arus kendaraan, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *