Perusahaan Didorong Ikut Tangani Lansia Sebatang Kara, Ini Nominal Tunjangan Hidupnya
Bupati Rembang, Abdul Hafidz dan Direktur Utama PD. BPR BKK Lasem, Suwarno, saat menunjukkan secara simbolis dana santunan Lansia. (Foto atas) Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengunjungi Kasnadi, Lansia sebatang kara, beberapa waktu lalu.
Bupati Rembang, Abdul Hafidz dan Direktur Utama PD. BPR BKK Lasem, Suwarno, saat menunjukkan secara simbolis dana santunan Lansia. (Foto atas) Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengunjungi Kasnadi, Lansia sebatang kara, beberapa waktu lalu.

Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang mengidentifikasi sebanyak 230 orang kaum lanjut usia di Kabupaten Rembang hidup sebatang kara. Mereka perlu mendapatkan penanganan, agar kondisinya menjadi lebih baik.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz membeberkan angka tersebut, ketika memberikan sambutan dalam undian Tamades PD. BPR BKK Lasem, di Pendopo Museum Kartini, Rabu pagi (16 Oktober 2019).

Kaum Lansia yang ia maksudkan adalah hidup sendiri, tanpa mempunyai sanak keluarga dan tidak memiliki aset maupun pekerjaan. Ia mendorong supaya perusahaan-perusahaan di Kabupaten Rembang ikut ambil bagian, guna mengatasi masalah itu. Kebetulan PD. BPR BKK Lasem turut menanggung 10 orang Lansia.

“Masih banyak Lansia yang sebatang kara di Kabupaten Rembang ini. Jumlahnya kira-kira 230 an. Itu menjadi tanggung jawab kita. Kalau tadi PD. BPR BKK Lasem ambil 10 orang, besok ditambah pak jadi 20, “ ujarnya.

Kepedulian pemerintah dan CSR perusahaan ini diwujudkan dalam bentuk santunan jatah hidup setiap bulan kepada kaum Lansia, sebesar Rp 370 ribu per orang. Diharapkan mereka nantinya bisa memperoleh sumber penghasilan, sekedar untuk menopang kebutuhan sehari-hari.

“Semua perusahaan saya minta untuk ambil penanganan Lansia ini, setiap bulan Rp 370 ribu. Kita keroyok bareng-bareng. Saya terima kasih PD. BPR BKK Lasem ikut andil. Kalau 10 orang, sebulan Rp 3,7 Juta. Selama 12 bulan, “ terang Hafidz.

Sementara itu, seorang warga Lansia sebatang kara di Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kasnadi atau Mbah Di mengaku sampai sekarang belum menerima tunjangan Rp 370 ribu per bulan. Ia yang lumpuh dan hanya bisa terbaring di tempat tidur, sebatas pasrah menunggu, karena beberapa waktu lalu pernah dijanjikan oleh Bupati Rembang, Abdul Hafidz yang sempat mengunjungi rumahnya.

“Saya nunggu-nunggu kok belum ada tunjangan setiap bulan ya mas. Semoga saya termasuk yang dapat, biar nggak merepotkan tetangga terus, “ kata Kasnadi lirih, menggunakan bahasa Jawa. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *