KTT Sapi Kandang Komunal Terbesar Di Kab. Rembang, Yukk Kita Intip Rahasianya
Kekompakan anggota KTT Subur Desa Meteseh, Kec. Kaliori.
Kekompakan anggota KTT Subur Desa Meteseh, Kec. Kaliori.

Kaliori – Di Kabupaten Rembang, ada sebuah kandang ternak sapi terpusat atau komunal yang dikelola oleh kelompok tani ternak, masih sanggup bertahan sampai sekarang. Padahal pengelolaan sapi semacam itu sering menghadapi kendala, membuat ternak rawan dijual. Lalu bagaimana strategi yang mereka terapkan, agar tetap bisa eksis ?

Nama kelompok tersebut, yakni Kelompok Tani Ternak (KTT) Subur di Desa Meteseh, Kecamatan Kaliori. Hampir 100 ekor sapi yang dikelola kelompok ini. Jika mengacu data dari Dinas Pertanian Dan Pangan, Kelompok Subur merupakan kelompok terbesar versi kandang komunal di Kabupaten Rembang.

Sekretaris KTT Subur Desa Meteseh, Eko Hadi mengakui merawat sapi di kandang terpusat, membutuhkan kesabaran dan kekompakan antar anggota kelompok.

“Kesulitannya kalau ada perkembangan info, nggak bisa cepat meneruskan kepada anggota kelompok. Muncul anggapan, merawat sapi kok di kandang komunal, merawatnya gimana, rata-rata gitu, “ ujarnya.

Menurut Eko, keterlibatan anggota yang masuk ke dalam KTT Subur, tidak hanya 10 atau 20 orang. Melainkan sebanyak mungkin warga dilibatkan. Sistemnya, jika ada sapi beranak, dalam jangka waktu 6 bulan kemudian keluar kandang. Indukan masih milik kelompok, sedangkan anak sapi diserahkan kepada anggota kelompok. Anak sapi tersebut boleh dijual atau dirawat sendiri. Dengan catatan, anggota penerima anak sapi wajib memasukkan uang kas kepada KTT Subur. Besarannya, berdasarkan nilai harga jual.

Ia mencontohkan kalau nilainya Rp 1 Juta, maka wajib setor Rp 150 ribu. Laku Rp 10 Juta, menyerahkan uang kas Rp 1,5 Juta. Setor uang kas semacam itu dianggap tidak terlalu memberatkan, karena semangat awal terbentuknya kelompok, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Kami memperkirakan pengelolaan ternak sapi ini sudah dirasakan oleh 70 % warga Desa Meteseh. Makanya kami sering menyampaikan kalau bentuk kelompok, jangan hanya segelintir orang. Tapi diratakan semua, sehingga semua merasa memiliki. Alhamdulilah, di Desa Meteseh ini masih tetap berjalan, “ tandasnya.

Ketika ditanya seputar tantangan bagi peternak sapi, Eko Hadi menilai antara ongkos pemeliharaan dengan harga jual, tidak terlalu mengantongi untung banyak. Apalagi jika pakan terus-terusan membeli, bisa jadi justru impas atau bahkan rugi.

1 ekor sapi yang dirawat 2-3 bulan, rata-rata mendapatkan kelebihan harga Rp 2 Jutaan. Begitu disesuaikan dengan kebutuhan dedak, konsentrat dan bahan pakan lainnya, kalau pun untung sangat tipis.

“Harga dedak, konsentrat kan naik terus sekarang. Jualnya sapi nggak bisa langsung ke petani pembeli, tapi lewat tengkulak. Meski demikian, orang desa itu kalau di rumah ada sapi, rasanya tenang, tanpa memperhitungkan keuntungan. Ibaratnya jadi tabungan, sewaktu-waktu butuh, bisa dijual, “ imbuh Eko.

Solusi terbaik untuk menekan ongkos pengeluaran, Kelompok Tani Ternak juga mesti memiliki pusat pakan sendiri secara swadaya. Mulai budidaya rumput gajah, hingga mengembangkan pakan fermentasi. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *