Desa Sulit Mengendalikan, Masalah Air Picu Kesenjangan
Penyerahan bantuan bibit tanaman dari pengurus PWI Kabupaten Rembang, Minggu (21/10). (gambar atas) Seorang wartawan mengambil air di atas perbukitan Desa Woro.
Penyerahan bantuan bibit tanaman dari pengurus PWI Kabupaten Rembang, Minggu (21/10). (gambar atas) Seorang wartawan mengambil air di atas perbukitan Desa Woro.

Kragan – Masalah air rawan menuai konflik di Desa Woro, Kecamatan Kragan. Pihak desa kesulitan mengatur, sehingga mengakibatkan kesenjangan sosial antar warga.

Saat kemah bhakti sosial Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang di Desa Woro, Sabtu malam (20/10), Sekretaris Desa Woro, Ragil Riyanto membeberkan sumber air paling besar berada di perbukitan Dusun Tegalsuruan, Desa Woro. Air dialirkan ke rumah – rumah penduduk menggunakan pipa, termasuk menuju kawasan dusun lain. Air umumnya ditangani kelompok, tanpa campur tangan pemerintah desa.

Setiap kelompok, beranggota 20 – 30 orang. Per orang harus membayar biaya pemasangan jaringan pipa antara Rp 3 – 3,5 Juta. Besarnya biaya tersebut mengakibatkan warga miskin kesulitan menjadi anggota dan kesulitan menikmati air, terutama pada musim kemarau seperti sekarang. Pihaknya bingung menangani hal itu. Bantuan bak – bak penampungan air dari pemerintah pun, sekarang tak terpakai.

“Warga miskin sangat berat, jadi orang kecil nggak bisa menikmati, serba repot. Dulu ada kran umum, sehingga warga bisa membawa ember dan pulang bisa bawa air. Ini kan warga ambil air di lahan sendiri, kemudian dikelola kelompok. Terus terang pemerintah desa kesulitan mengendalikan, “ jelasnya ketika sesi ramah tamah dengan wartawan.

Ragil menambahkan celakanya warga yang mendapatkan suplai air, dilarang menyalurkan air kepada warga lain, di luar anggota. Kalau masih nekat memberi, yang bersangkutan dikeluarkan dari anggota. Pemerintah desa bersama Plan Internasional pernah memfasilitasi dengan membentuk satu kelompok pengelola air dibawah naungan desa, namun justru ditolak masyarakat yang selama ini sudah merasa nyaman mendapatkan debet air besar.

“Misalnya saya ikut anggota, lha kalau nanti ada tetangga minta, saya dikeluarkan dari kelompok itu. Jadi ya harus pelit. Kami sudah berusaha mengatasi, gimana caranya air dikelola merata untuk masyarakat desa. Semisal pakai meteran, tapi malah ditolak. Ketika sekarang ada warga kesulitan air, komplainnya juga ke desa, “ imbuh Ragil.

Debet air di perbukitan Desa Woro tergolong besar. Kualitas air juga bagus, bahkan layak langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Supriyadi, warga Desa Woro berharap pemerintah desa bisa menempuh dua cara sebagai jalan tengah. Pertama, kran air untuk warga miskin tetap harus ada. Kedua, pemerintah jangan kendor menjalin komunikasi dengan masyarakat, sehingga kedepan pengelolaan air mendapatkan formula terbaik.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang, Djamal A. Garhan mengungkapkan dalam kemah bhakti sosial ini, pihaknya menyerahkan 400 an bibit tanaman kepada Karang Taruna Desa Woro, kebanyakan jenis buah – buahan.

“Selain bisa menambah debet air, kelak kalau berbuah bisa menghasilkan dari sisi ekonomi. Bibitnya secara simbolis sudah kami serahkan. Tapi menanamnya nunggu musim penghujan, biar pas waktunya, “ pungkas Djamal. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *