Fenomena “Pohon Menangis”, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Fenomena “pohon menangis” di Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem ramai dipadati masyarakat. (facebook Teguh Rahayu).
Fenomena “pohon menangis” di Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem ramai dipadati masyarakat. (facebook Teguh Rahayu).

Lasem – Fenomena pohon randu yang mengeluarkan air di dekat lapangan Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem, sampai Kamis siang (16 Agustus 2018) masih didatangi masyarakat yang merasa penasaran.

Kepala Desa Jolotundo, Kecamatan Lasem, Sri Susi Lani mengatakan saat kali pertama diketahui, air mengucur cukup deras, seperti air mancur pada ketinggian sekira 4 Meter. Namun Kamis siang, debetnya semakin berkurang dan hanya berupa rembesan saja. Meski demikian warga tetap tertarik mengamati, karena peristiwa semacam itu tergolong sangat langka. Mereka datang tak hanya warga Desa Jolotundo, namun banyak pula dari luar kampung.

“Pertama kali dipergoki habis Isya, kemudian sampai Rabu siang masih mancur. Yang hari ini tinggal merembes saja. Di bawah pohon itu ya ramai sekali. Kabar langsung menyebar cepat, “ tuturnya.

Sri Susi Lani menambahkan sejumlah warga sempat mengambil air yang keluar dari pohon ke dalam botol air mineral. Informasi yang beredar, konon akan dipakai untuk mengobati penyakit.

Ia pribadi tidak tahu menahu penyebab air keluar dari batang pohon. Sempat ada yang mengira kencing gendruwo, namun ia lebih percaya dengan faktor alam. Menurut cerita sejumlah sesepuh warga desa, pohon randu tersebut sudah lama ada, perkiraan usianya lebih dari 25 tahun.

“Airnya nggak jernih kok, agak kekuning – kuningan. Yang liat pertama anak – anak. Awalnya mereka takut, karena dikira kencing gendruwo, “ kata Sri sambil terkekeh.

Di sejumlah daerah, fenomena air keluar dari pohon atau lebih terkenal dengan sebutan pohon menangis, sebelumnya juga pernah terjadi. Menurut hasil penelitian, diperkirakan tekanan air dari akar ke atas melalui saluran halus di sela – sela batang atau kapiler.

Kenapa pada malam hari, air keluar lebih besar ? Hal itu kelembapan udara pada malam hari meningkat, sehingga proses penguapan pada permukaan daun menurun. Akibatnya, terjadi proses gutasi atau pelepasan air dari jaringan daun. (MJ – 81).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *