
Rembang – Ada lima isyu masalah dalam pengarusutamaan gender (PUG) di Kabupaten Rembang.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang, Nurdin Fahrudi menuturkan kelima hal itu, pertama rata-rata lama sekolah perempuan masih rendah, dibandingkan laki-laki.
“Rata-rata lama sekolah, laki-laki 8,40 tahun, sedangkan perempuan 7,41 tahun, (berdasarkan data BPS tahun 2025_Red),” tuturnya.
Kedua, masih adanya kasus kematian pada ibu dan balita.
“Kematian ibu, tahun 2023 ada 11, tahun 2024 ada 6 dan tahun 2025 ada 5 kasus. Kematian Balita, tahun 2023 berjumlah 145 kasus, tahun 2024 ada 142 dan tahun 2025 sebanyak 122. Terus menurun,” ungkap Nurdin.
Ketiga, di bidang ekonomi, pengeluaran per kapita perempuan lebih rendah, dibandingkan laki-laki. Begitu pula dengan partisipasi angkatan kerja perempuan yang lebih rendah, dibandingkan laki-laki.
“Pengeluaran per kapita laki-laki Rp 17.892, sedangkan perempuan Rp 8.273. Angkatan kerja, laki-laki 87,76 %, sedangkan perempuan 64,11 %,” bebernya.
Isyu keempat, di bidang politik, tingkat keterwakilan perempuan di DPRD Rembang masih rendah, hanya 11,1 %. Jauh tertinggal dari laki-laki yang mencapai 88,9 %.
“Kemudian isyu kelima adalah pencegahan dan penanganan korban kekerasan pada anak-anak dan perempuan,” tandas Nurdin.
Atas permasalahan tersebut, menurutnya Pemkab Rembang sudah mempunyai program-program lintas sektor, sebagai bagian dari solusi.
Ia mencontohkan program beasiswa kuliah gratis bagi warga tidak mampu, kemudian program Telponi (temokno, laporno dan openi) untuk menekan kasus kematian ibu, serta program-program lain yang sifatnya langsung mengarah ke sasaran.
“Kabupaten Rembang Jum’at pekan kemarin, sudah diverifikasi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, terkait pengarusutamaan gender ini. Semoga Rembang berhasil meraih predikat terbaik,” pungkasnya. (Musyafa Musa).
