
Sulang – Jembatan Siratal Mustaqim yang membelah Embung Sudo di sebelah timur Desa Sudo, Kecamatan Sulang, akhirnya dibongkar dan direvitalisasi.
Ketua BPD Desa Sudo, Pranghono mengatakan disebut jembatan Siratal Mustaqim, karena sangat sempit, dengan lebar 90 centi meter dan panjangnya 140 Meter, tanpa batas pengaman.
Kalau tidak ekstra hati-hati, pengendara sepeda motor bisa terjatuh ke dalam embung. Sudah berulang kali korban jatuh, pada saat embung terisi penuh air, maupun embung kering di kala musim kemarau seperti sekarang.
Bahkan Kades Sudo-pun pernah jatuh, ketika mengangkut hasil panen tembakau.
“Pak Kades sendiri juga pernah jatuh di situ kok. Kira-kira sebulan lalu, ada lagi petani tembakau jatuh, naik sepeda motor. Lantaran dasar embung kering, kondisi keras, korban luka dirawat di rumah sakit,” ungkapnya, Selasa (27 Oktober 2026).
Menurutnya, fungsi jembatan itu sangat penting, karena menjadi perlintasan masyarakat untuk pergi ke sawah dan mengangkut hasil pertanian. Selain itu, juga menghubungkan ke area pemakaman.
Kondisi konstruksi jembatan sudah memprihatinkan, sehingga perlu penanganan.
“Sudah banyak yang keropos, bahaya kalau tidak dibenahi,” imbuh Pranghono.
Pranghono menambahkan ada warga asli Desa Sudo yang sukses menjadi pengusaha di Tangerang, Bambang Purhadi, siap membiayai pembangunan jembatan Siratal Mustaqim, karena merasa memiliki tanggung jawab moral atas kondisi infrastruktur di kampung halamannya.
“Beliau nama lengkapnya Ir. H. Bambang Purhadi, M.T. Saat pulang ke Sudo cerita-cerita tentang masalah jembatan, muncullah ide itu. Sebelum jembatan, pak Bambang juga membantu penataan akses jalan menuju makam. Lalu melebarkan jalan dan menata saluran air dengan alat berat. Jalan itu masuknya wilayah Desa Sukorejo Kecamatan Sumber, tapi lebih banyak dipakai warga Desa Sudo,” bebernya.
Jembatan lama sudah mulai dibongkar per tanggal 23 Oktober 2026. Nantinya jembatan akan dilebarkan menjadi 1,5 Meter, sedangkan panjangnya tetap sekira 140 an Meter.
Target pengerjaan dan siap untuk dilewati, kemungkinan pada bulan Januari 2027 mendatang.
Jarak dengan Desa Sudo menuju lahan pertanian, lebih dekat kalau lewat jembatan tersebut. Setidaknya bisa memangkas jarak tempuh sekira 3 kilo meter.
“Ketika peletakan batu pertama hari Jum’at lalu, pak Bambang, pak Camat dan pak Danramil hadir. Selama jembatan dibongkar, petani ya lewat memutar ke Dusun Bogo Desa Sudo. Jaraknya tentu lebih jauh mas,” pungkas Pranghono.
Menurutnya, sebelum ada pihak yang menanggung, pihak Desa Sudo sejatinya sudah berupaya melakukan langkah-langkah, untuk merehab jembatan tersebut.
Awalnya akan menggunakan dana desa, namun harus mengurus izin terlebih dahulu dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), karena lokasi jembatan membentang di atas wilayah embung.
Alternatif lain yang sudah dilakukan yakni menggalang dana iuran swadaya masyarakat. Namun anggaran yang terkumpul belum mencukupi.
Hingga akhirnya ada solusi, seorang pengusaha asli Desa Sudo siap membiayai pembangunan jembatan, yang diperkirakan mencapai setengah Miliar Rupiah. (Musyafa Musa).
