
Rembang – Sensus Ekonomi akan berakhir serentak pada hari Senin tanggal 31 Agustus 2026.
Bagaimana kondisi terkini di Kabupaten Rembang ? Seorang petugas pengawas Sensus Ekonomi, Dolhamid mengakui masih ada penolakan warga untuk disensus.
“Ya masih ada, tapi jumlahnya relatif sedikit,” ungkapnya, Rabu (26/08).
Ia mencontohkan beberapa pemilik Warung Madura enggan memberikan data, karena alasan bukan sebagai pemilik. Namun untuk menjawab pertanyaan, harus pimpinan atau bos-nya langsung.
“Nggak mau ngasih data, padahal kita hanya nyensus untuk pengeluaran dan pemasukan di warung situ saja. Bilangnya ada bose, lha ini yang repot,” kata Dolhamid.
Selain itu, penolakan dari beberapa pemilik usaha, karena khawatir setelah Sensus Ekonomi, akan menaikkan pungutan pajak.
Meski berulang kali petugas menjelaskan Sensus Ekonomi tidak berpengaruh pada besar kecilnya pajak, namun ada saja yang masih khawatir.
“Takut pajaknya tambah, sudah kita jelaskan, nggak,” imbuhnya.
Menurutnya, kekuatan mental dari petugas Sensus Ekonomi sangat menentukan. Kalau dia paham pertanyaan dan menguasai situasi, biasanya akan mampu mendapatkan data.
Sebaliknya, jika tidak kuat mental, akan merasa kesulitan. Di dalam anggotanya, pernah ada yang ingin mundur, menghadapi tekanan di lapangan. Tapi setelah diberikan pemahaman, akhirnya tidak jadi mundur.
“Kalau sikapnya nggak kuat, kan takut. Apalagi daftar pertanyaan di dalam HP itu banyak sekali. Pernah ada di kelompok saya mau keluar, cuma saya kasih semangat, yang penting semangat. Tiap hari survei minimal 6-8. Kadang kan ada yang nyabang, sudah punya kerjaan, ikut jadi petugas sensus,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang, Jubaedi mengatakan Sensus Ekonomi kurang beberapa hari lagi. Per Rabu pagi (26/08), jumlah sasaran yang sudah disensus mencapai 94,99 %.
Jubaedi menambahkan rata-rata usaha di Kabupaten Rembang yang memiliki kantor pusat di luar daerah, belum berhasil disensus, karena pegawai/pekerja masih kesulitan menyampaikan data.
Hal itu perlu waktu untuk bisa mendapatkan data tersebut.
“Soalnya datanya tidak ada di cabang (Rembang). Sudah kami coba telusuri dan koordinasi melalui bantuan BPS Provinsi/Pusat, perlu waktu,” ujar Jubaedi. (Musyafa Musa).

